KETIKA TAK ADA LAGI YANG MEMANGGILMU PULANG

                  Entah sudah berapa banyak cerita ku lalui. Berawal ketika memutuskan untuk meninggalkan tanah kelahiran tepatnya setelah lulus sekolah lanjutan atas. Mencoba merangkai asa di pulau jawa. Hampir 7 tahun merajut kisah di tanah antara Citayem dan Cilebut.

            Di tanah itu, hampir setiap tahun sebelum lebaran tiba, suara yang penuh harap itu selalu bertanya : “ Pulangnya kelen ( kalian) hari raya ini ?”. Suara lembut nan jauh diujung telepon tetangga yang biasa tempat menitipkan kabar berita karena belum adanya handphone saat itu. Suara syahdu tatkala bersenandung malu – malu dikala berkegiatan sebagai ibu rumah tangga. Suara dimana saat ini sangat kurindukan untuk ku dengar. Walau hanya sekedar bertanya : “ Sehat kan di ?”

            Sementara, lelaki gagah yang memiliki tatapan tajam itu berpura – pura tegar menjaga wibawa meski rindu di hatinya meronta – ronta. Dialah ayah yang sering pura – pura tangguh meski kerinduan telah merasuki relung hatinya. Dia lelaki yang tak mau menyusahkan anak – anaknya. Seolah merasa baik – baik saja dengan penyakit gula yang dideritanya.

            Empat belas Oktober 2004, kehilangan pertama pemanggilku untuk pulang. Dunia terasa mengecil dan seakan menjepit seluruh tubuh ini. Hati semakin hancur karena tidak berkesempatan melihat wajahnya untuk terakhir kali. Emak sebutan kami untuknya. Wanita sholeha lembut nan manis wajahnya. Dia selalu berbaik sangka kepada siapa saja. Yang paling cerewet mengingatkan anak – anaknya untuk tetap shalat.

            Di tahun kegalauan itu aku mulai belajar arti kehilangan. Kehilangan sosok emak adalah kehilangan yang sangat menyesakkan hati. Membuatku meras bahwa tidak ada yang perlu di khawatirkan lagi tentang kehilangan. Kehilangan emak juga seakan membuat mentalku sedikit gila. Aku tidak tahu, apakah karena perasaan kehilangan yang sangat teramat mendalam atau karena pura - pura menerima sepenuhnya kehilangan itu. Sampai waktu bergulir perlahan – lahan mengerus perasaan luka itu. Aku tak tahu.

Seiring waktu karena telah merasakan kehilangan yang sangat menyakitkan itu membuat aku lupa bahwa masih memiliki pemanggil kedua yaitu ayah. Saat itu berfikir, semua akan baik – baik saja sekiranya pemanggilku yang ini juga akan meninggalkan kami selama – lamanya. Ditambah lagi aku merasa  pada saat itu hubungan kami tidak terlalu akrab hingga membuatku menerima tawaran untuk bekerja ke kota seribu pinang, jayapura – papua.

            Petualanganku di kota Jayapura semakin membuat tenggelam dari permainan dunia. Tujuh kali lebaran tak pernah sedikit pun terlintas untuk pulang ke kampung halaman. Mungkin faktornya adalah karena ayah jarang sekali mengungkapkan kerinduannya terhadapku dan juga kurang pekanya seorang anak terhadap kegelisahan ayahnya. Hingga suatu saat telepon genggamku berbunyi, dan menampilkan kata ayah di handphoneku.

Di ujung percakapan dia bertanya, : “ Pulang kau lebaran ini ?” aku hanya menjawab singkat “ Belum tau yah “. Padahal memang tidak ada niat untuk pulang.

Ayah melanjutkan, “ Kalau kau nggak pulang tahun ini, berarti sudah tujuh tahun kau nggak pulang. Kalaupun ngga pulang kau tahun ini, nggak ketemu kita di dunia ini di akhiratlah kita ketemu ya”. Suara ayah bergetar saat mengucapkan perkataan itu.

Mulut lancangku berkata, “ iya kalau kita ketemu, kalau nggak ?”

Ayah berkata singkat, “ Ya sudahlah “ mengakhiri percakapan itu.

            Setelah perbincangan melalui handphone itu aku terdiam, bersandar di dinding. Aku menghelah nafas panjang. Berfikir tentang percakapan barusan. Kemudian hati ini bergetar seakan – akan baru tersadar bahwa tujuh tahun itu waktu yang lama untuk tidak pulang dari perantauan. Selama tujuh tahun di perantauan itu tak ada niat ingin pulang ke kampung halaman. Seperti yang telah ku urai sebelumnya, bahwa ini karena perasaan kehilangan emak yang terlalu dalam atau pura – pura menerima kenyataan kehilangan itu. Padahal masih menyimpan kesedihan karena lukanya kehilangan. Lalu kemudian menenggelamkan diri dengan kesibukan di perantauan seolah baik – baik aja. Dan tak terasa sudah sekian tahun di tanah rantau.

 

********

 

            Shubuh yang tenang. Hawa dingin yang menusuk tulang. Beriring suara adzan bersahutan. Angin bertiup lamban menyambut kepulangan si “anak hilang”. Ku hela nafas. “Aku pulang emak” gumamku dalam hati. Aku tertegun terdiam di halaman rumah tua itu. Mataku mulai melihat sekeliling. Membuka memori tujuh tahun yang lalu. Berharap wajah manis itu tersenyum, memelukku dan menangis bahagia menyambutku dengan berkata, “Anakku pulang”. Tapi semua hening saja. Hanya ada suara gesekan daun – daun yang tertiup angin lembut pagi.

Tujuh tahun kutinggalkan rasa kehilangan itu di sini. Di rumah dengan warna cat yang sama saat kutinggalkan hanya saja warnanya sudah memudar. Dua tiang kayu penyanggah atap teras yang masih kokoh dengan warna coklat mudanya. Dan bunga – bunga tak sebanyak dan tak serapi ketika emak masih ada. Sebagian besar bunga – bunga itu pun mati tak terurus. Teringat beberapa bunga yang masih ada saat yang merawat mereka masih hidup. Kini tampak kusam tak terawat. Bunga – bunga itu seolah bercerita tentang tujuh tahun yang  telah mereka lewati. Rumah setengah batu itu tampak redup seperti terhalang suatu bayangan besar yang menutupi keceriannya.  Kesan itu bertambah dengan bunga – bunga yang di tanam dalam wadah atau pun langsung di atas tanah seperti tak bergairah lagi untuk bersemi.

“Assalamu’alaikum...” teriakku berulang beberapa kali karana tidak ada jawaban dari dalam rumah itu.

“Wa’alaikumsalam..” jawab seorang lelaki sambil membuka pintu besi

Aku hanya diam berdiri di teras rumah. Ku dengar seseorang membuka pintu. Tampak lelaki berkaos oblong putih dan bersarung itu membuka pintu teralis dan bertanya,” Siapa?” aku tetap diam tak menjawab lelaki yang terlihat lebih tua saat ku tinggalkan dulu. Lalu dia berjalan perlahan melalui lorong penghubung ruang keluarga dan teras sisi sebelah kiri rumah kami menghampiriku.

Awal reaksinya melihatku biasa saja karena mungkin karena pangling dan menganggapku tamu biasa saja. Apalagi sebelumnya aku memang tidak memberitahukan kalau akan pulang. Serta sekian lamanya ayah tidak melihat “si anak hilang”.

“Apakabar yah?” tanyaku sambil menggapai tangannya untuk segera ku salam dan kucium tangan yang sudah sekian lama tidak ku sentuh.

“Eh..kaunya di ” tanyanya dengan suara bergetar seolah tak percaya anak yang beberapa waktu lalu diteleponya kini berdiri di hadapannya. Bulir bening menetes dari matanya dan dia merangkulku erat. Hari itu, aku telah melihat runtuhnya ketegasan dan kerasnya seorang ayah yang ku kenal selama ini. Tubuh yang kutinggalkan gagah kini mulai ringkih dimakan usia dalam pelukanku. Lelaki tua itu hanya bisa tertawa bahagia menyambut si anak yang kelahirannya adalah sebuah ketidaksengajaan sepasang suami istri yang sebelumnya sudah memiliki enam orang anak. Kerinduan yang selama ini tak pernah terucap dari mulut seorang ayah terhadap anak yang sudah sekian lama tidak bertatap muka dengannya dan keegoisan seorang anak yang tidak peka akan kerinduan seorang ayah melebur di pagi itu. Kerinduan itu sirna seketika. Berubah menjadi kebahagian yang tak terhingga. Kami pun mulai bertukar cerita tentang kepingan – kepingan yang hilang selama tujuh tahun ini. Mencoba merajut kembali berbagai kenangan yang sempat terlupakan. Kebahagiannya terpancar tatkala hampir setiap ada orang yang datang bertamu ke rumah atau kenalannya yang bertemu di jalan, ayah akan dengan bangga mengatakan : “ Ini anakku baru pulang dari irian ”. Ayah selalu mengatakan kata papua itu dengan kata irian. Karena memang pulau papua itu sebelumnya bernama irian jaya. Dan wajar jika orang seumuran ayah yang terlahir tahun 1945 sudah terbiasa mengatakan pulau papua dengan sebutan irian.

 

 *********

 

Kurebahkan tubuh gemuk ini di atas kasur. Tempat dimana biasa kulepaskan penat setelah seharian bekerja. Kuraih handphone yang terletak di atas meja kecil kamarku. Tidak ada pesan atau panggilan tak terjawab di layar handphone itu. Pakaian shalat ied masih ku kenakan. Kopiah hitam sudah kuletakkan di tempat biasanya. Rasanya mata ini masih ingin melanjutkan sisa tidur semalam. Ketenangan pagi syahwal sudah berubah menjadi hiruk pikuk orang – orang yang berlebaran. Namun tubuh ini masih terlalu nyaman di peraduannya. Pandanganku menerawang jauh ke langit – langit kamar. Fikiran mencoba mengendalikan keadaan. Seakan – akan semua baik – baik saja. Lebaran seharusnya menjadi momen berkumpul dengan kelurga. Melupakan sejenak kacau balaunya kehidupan. Namun tidak denganku yang memutuskan untuk tidak mudik ke kampung halaman untuk kesekian kalinya.

Tidak terasa untuk lebaran tahun ini sudah sebelas tahun ayah tidak bersama kami dan sudah dua puluh tahun emak meninggalkan kami anak – anaknya. Tak ada lagi suara bertanya kabar, juga tak ada lagi suara yang memanggil pulang. Bahkan biasanya panggilan itu sudah bergema jauh sebelum lebaran. Sementara saudara – saudara yang lain juga sudah sibuk dengan kisah hidupnya masing – masing. Setiap tahun setelah kepergian ayah dan emak, tatkala lebaran tiba perasaan ini sama, kosong. Perasaan kehilangan yang tidak terlukiskan itu seakan ikut bergema seiring dengan suara takbir yang bersahutan dari toa – toa masjid di setiap malam lebaran. Dan pada akhirnya rasa kehilangan itu harus disandarkan dengan sebuah kalimat, “ semua dariMu dan kembali kepadaMu”.

 Ayah dan emak itu pemanggil untuk kembali pulang dari perantauan. Mereka tidak mengharapkan buah tangan dari anaknya. Atau gepokan uang yang telah dihasilkan anaknya. Mereka hanya berharap anak – anaknya ada di saat mereka mengharapkannya. Melihat wajah malaikat kecilnya yang kini telah tumbuh dan harus berjibaku dengan kerasnya dunia. Mereka tahu, terkadang hidup memang sedang tidak baik – baik saja. Tapi meraka mencoba tersenyum, seolah ingin berkata : “Semua akan baik – baik saja nak “. Dan sadar atau tidak setelah bertemu mereka, seorang perantau biasanya seperti memiliki kekuatan baru yang siap digunakan untuk  pertarungan  di tanah rantau selanjutnya.

Ayah dan ibu akan menua. Tubuh mereka bukan tubuh yang sama lagi saat kau meninggalkan mereka. Hitam rambut mereka akan memutih seiring bertambahnya usia. Tenaga mereka akan melemah semakin tak berdaya. Bahkan semua perubahan itu tidak akan kau sadari sampai kau pulang menemuinya. Pulanglah selagi ayah dan ibumu masih bisa memanggilmu pulang. Dan ketika tidak ada lagi yang memanggilmu untuk pulang, saat itulah kau merasakan kehampaan yang dalam. Sampai kau bisa menerima rasa kehilangan itu atau memilih berdamai dengan kenyataan hingga lambat laun waktu akan menggerus perasaan kehilangan itu.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jadi muslim itu tidak enak (2)

Ayah, aku mohon maaf........