Postingan

SANG BADUT

Gambar
              Minggu sore itu, jalan raya terlihat lengang. Langit masih berselimut awan kelabu menandakan kalau hujan masih akan tetap turun. Beberapa hari ini hujan selalu turun. Namun, hari ini hujan datang lebih awal hingga membuat semua aktivitas seolah berjalan lambat. Mungkin karena sebagian besar orang memilih berdiam di rumah. Rintik – rintik hujan menari riang di genangan – genangan air dari membentuk pola lingkaran kecil berganti menjadi bentuk yang semakin lama semakin tidak beraturan mengikut irama derasnya hujan yang turun. Di depan sebuah kedai kecil yang sedang tutup tampak seorang lelaki separuh baya sedang duduk di atas lantai. Tangannya memeluk kedua lututnya untuk mengurangi rasa dingin dari cuaca sore itu dan juga rasa dingin karana kostum badut yang dipakainya telah basah terkena hujan. Pandanganya tertuju pada genangan air dengan tetesan air hujan yang berasal dari atap tempat dia berteduh. Sesekali m...

MATAHARI dan TIGA BINTANG

Gambar
      Siang itu suhu udara di kota Pekanbaru menyentuh angka 34 derajat celcius. Suhu yang cukup menantang bagi pekerja lapangan sepertiku. Membuat keringat bercucuran ke seluruh badan. Merasakan sensasi kulit seperti terbakar jika terkena matahari langsung. Namun itu tidak berlaku dengan pekerja kantoran yang hari – hari merasakan sejuknya ruangan ac. Karena suhu seperti ini sudah tidak berpengaruh dengan mereka. Dan padatnya jalanan siang itu menambah gerah tubuh ini. Sementara ac dalam mobil sudah tidak berfungsi. Dalam kepanasan begini, orang – orang dilarang berbuat kesalahan sedikit pun di jalan. Karena jika salah sedikit bisa langsung saling emosi.        Mobil pick up putih yang ku kendarai tiba di sebuah ruko dengan pintu lipat berwarna hijau. Waktu saat itu sudah pukul 13.30 siang. “ Mungkin ibu itu masih shalat.” gumamku. Karena kulihat pintu ruko itu masih tutup. Kumundurkan mobil putih itu mendekat ke arah pintu ruko agar nanti bisa lebih ...

KETIKA TAK ADA LAGI YANG MEMANGGILMU PULANG

                       Entah sudah berapa banyak cerita ku lalui. Berawal ketika memutuskan untuk meninggalkan tanah kelahiran tepatnya setelah lulus sekolah lanjutan atas. Mencoba merangkai asa di pulau jawa. Hampir 7 tahun merajut kisah di tanah antara Citayem dan Cilebut.             Di tanah itu, hampir setiap tahun sebelum lebaran tiba, suara yang penuh harap itu selalu bertanya : “ Pulangnya kelen ( kalian) hari raya ini ?”. Suara lembut nan jauh diujung telepon tetangga yang biasa tempat menitipkan kabar berita karena belum adanya handphone saat itu. Suara syahdu tatkala bersenandung malu – malu dikala berkegiatan sebagai ibu rumah tangga. Suara dimana saat ini sangat kurindukan untuk ku dengar. Walau hanya sekedar bertanya : “ Sehat kan di ?”             Sementara, lelaki gagah yang memiliki tatapa...