MATAHARI dan TIGA BINTANG

 


    Siang itu suhu udara di kota Pekanbaru menyentuh angka 34 derajat celcius. Suhu yang cukup menantang bagi pekerja lapangan sepertiku. Membuat keringat bercucuran ke seluruh badan. Merasakan sensasi kulit seperti terbakar jika terkena matahari langsung. Namun itu tidak berlaku dengan pekerja kantoran yang hari – hari merasakan sejuknya ruangan ac. Karena suhu seperti ini sudah tidak berpengaruh dengan mereka. Dan padatnya jalanan siang itu menambah gerah tubuh ini. Sementara ac dalam mobil sudah tidak berfungsi. Dalam kepanasan begini, orang – orang dilarang berbuat kesalahan sedikit pun di jalan. Karena jika salah sedikit bisa langsung saling emosi.

     Mobil pick up putih yang ku kendarai tiba di sebuah ruko dengan pintu lipat berwarna hijau. Waktu saat itu sudah pukul 13.30 siang. “ Mungkin ibu itu masih shalat.” gumamku. Karena kulihat pintu ruko itu masih tutup. Kumundurkan mobil putih itu mendekat ke arah pintu ruko agar nanti bisa lebih dekat saat membongkar pesanan ibu Nur. Pemilik ruko itu bernama Bu Nur, begitulah orang – orang biasa memanggilnya. Wanita berkerudung yang telah berusia diatas enam puluh tahunan. Garis – garis wajah tua itu menggoreskan sosok wanita lembut nan penyayang. Namun juga bersikap tegas jika diperlukan. Serta senyuman lembut yang selalu tersungging dibibirnya menambah kesan ramah sosoknya.

    “ Sudah dari tadi ?” tanya ibu Nur tiba – tiba kepadaku yang baru buka pintu mobil berniat untuk memanggilnya ke rumahnya. Karena sudah beberapa kali ku hubungi melalui handphone tapi tidak di angkat. Rumahnya memang tidak jauh dari rukonya.

    “ Baru sampai bu” jawabku singkat dan bergegas membuka pintu mobil belakang pick up.

    “ Kenapa tidak telpon ?” tanya bu Nur

    “ Tadi saya sudah telpon tapi tidak di angkat” jawabku

      o..iya hp saya dimainin cucu “

    Kuletakkan semua pesanan bu Nur di tempat yang sudah disiapkannya. Setelah semua pesanan bu Nur selesai ku angkat, kuberikan secarik kertas nota berisi barang – barang pesanan beserta harganya. Ibu Nur mengambil beberapa lembaran uang dari laci kasirnya sesuai jumlah uang yang tertera di nota yang kuberikan tadi.

    “Ini uangnya dan ini uang buat beli makan”. Bu Nur memberikan sejumlah uang yang tertulis di nota dan juga memberikan tips buatku. Setiap mengantar pesanannya aku memang selalu diberikannya tips olehnya.

    Beliau mulai bertanya perihal boss tempat aku bekerja karena memang beliau mengenal boss dan juga ibunya. Ibunya boss tempat aku bekerja adalah bekas staff ibu Nur bekerja dulu. Ibu Nur dan suaminya pensiuanan salah satu BUMN di Pekanbaru. Hingga dia juga bertanya tentang kehidupanku.   Berkali – kali beliau meminta maaf setiap saat mengajukan pertanyaan yang dikiranya akan menyinggung perasaanku. Dan terkadang aku juga menjawab secara diplomatik jika pertanyaannya terlalu mengarah ke arah rana pribadi yang menurutku tidak semua harus tahu. Dan dari percakapan ini, bu Nur baru tahu kalau aku sudah bercerai dan memiliki satu anak perempuan yang sudah berumur tiga tahun dan baru aku tinggal di sebuah musholla yang terabaikan.

    “Itulah ya nak, kita hidup ini tidak lepas dari masalah. Ada saja ujiannya.” Tekanan suara bu Nur berubah pelan dan beliau melanjutkan bicara

    “Kau dengan masalahmu, ibu pun ada juga masalahnya. Suami ibu sudah lama meninggal dan..... ketiga anak laki – laki ibu pun juga sudah di panggil sama Allah”

     Mulutnya berbicara namun tatapannya kosong dan matanya mulai berkaca – kaca hingga bulir – bulir bening perlahan menetes dari kedua sudut matanya. Raut wajah wanita  tua itu menggambarkan kehilangan yang mendalam. Sementara aku hanya bisa diam turut dalam kesedihan itu. Saat beliau mengatakan telah di tinggal suami, rona kesedihan di wajahnya masih tersamarkan. Seolah hati dan fikirannya masih bisa menerima kalau kepergian itu takdir dari yang Maha Kuasa. Namun tatkala bibirnya mengucapkan lirih bahwa ketiga bintang hatinya pun turut di panggil oleh Allah dalam rentang waktu yang tidak lama. Seakan kesabaran beliau runtuh dan masih belum bisa menerima kenyataan itu. Air mukanya melukiskan sebuah kehilangan yang tidak tertuliskan dengan kata - kata.

    Lidahku keluh tak tahu mau berucap apa. Membayangkan betapa beratnya jika berada di posisi bu Nur yang harus kehilangan pendamping hidup dan juga ketiga belahan jiwanya. Fikiranku mulai menerka – nerka, bagaimana rasanya kehilangan pasangan hidup dan juga buah hati dalam rentang waktu yang tidak terlalu lama. Apakah rasanya sama seperti saat kehilangan kedua orang tua ? Atau mungkin saat kehilangan sahabat dan kerabat ?

    Jangankan tiga orang anak, satu saja rasanya pasti sudah berat sekali. Karena seorang anak itu adalah sebuah pengharapan berisi do’a – do’a bagi orang tua. Seorang anak bisa menjadi pelipur lara bagi orang tuanya. Anak juga merupakan cerminan dari karakter dan tingkah laku orang tuanya. Dan anak itu adalah buah kasih sayang dari dua anak manusia yang tidak saling kita kenal sebelumnya kemudian Allah persatukan dengan ikatan pernikahan.

    “ Kadang ya nak, kalau selesai shalat ibu masih sering bertanya sama Allah. Kenapa ya Allah ? Salahku apa ya Allah, hingga kau ambil semua orang yang ku sayang” suara bu Nur bergetar menahan tangis.

    “ Ibu masih buka kedai ini, bukan untuk apa – apa nak, biar ibu ada kegiatan aja. Biar ibu tidak larut dalam kesedihan. Dan dari hasil jualan ini ibu juga kan masih bisa bersedekah “.

    Air mata dari sudut matanya tidak terbendung terus mengalir pelan membasahi kerutan pipinya. Sesekali beliau seka air mata itu dengan jilbab abu – abu yang dikenakannya.

    “ Maaf bu” aku mulai berbicara

    “ Kebayang nggak, jika nanti di akhirat, suami ibu dan ketiga anak ibu menyambut ibu di pintu syurga. Mama.... kataku seolah – olah sedang menyambut seseorang sambil melebarkan kedua tangan seakan ingin memeluk

    Entah apa yang ada dibenakku sehingga kata – kata itu keluar dari mulutku. Aku hanya bermaksud untuk menghibur beliau. Seakan – akan aku ingin berkata, sabar ya bu. InsyaAllah ibu akan berkumpul kembali dengan meraka

    Ibu Nur tersenyum mendengar kata – kataku barusan. Seakan mengaminkan apa yang barusan aku katakan. Raut wajah sedih itu sedikit berubah ceria. Sebelum aku berpamitan pulang, beliau menasehatiku untuk tidak boros dan serta mendo’akan agar Allah memudahkan setiap langkahku.

*********

    Mobil pick up putih yang ku kendarai melaju pelan. Menyusuri jalan di pinggiran kota pekanbaru menuju arah pulang. Fikiranku masih tertinggal di ruko bu Nur dengan satu pertanyaan yang masih terngiang. Bagaimana rasanya kehilangan pasangan dan anak ? Apakah sama rasanya dengan rasa kehilangan kedua orang tua ? Dalam mobil yang berjalan pelan itu aku berusaha menyimpulkan sendiri tentang perasaan bahwa ketika kita di tinggal kedua orangtua perasaan sedih itu muncul karena mungkin sebagian orang akan merasa kehilangan tempat mengadu atau cerita meski terkadang tanpa cerita pun orang tua seakan tahu keadaan anaknya. Rasa kehilangan ini bisa muncul karana tidak ada lagi tempat bermanja. Rindu akan nasehat dan bimbingan mereka. Di saat orang tua sudah tidak ada kita juga akan merasa kehilangan pembela yang akan membela anaknya tanpa syarat. Jika orang tua sudah tidak ada, kita merasa kehilangan arah.

    Sementara jika kehilangan pasangan, kita seperti merasa kehilangan separuh hati. Karena sejatinya pasangan hidup itu awalnya hanyalah seorang yang tidak kita kenal sama sekali. Kemudian berjanji hidup bersama dalam ikatan suci sebuah rumah tangga dengan berlandaskan beragam impian. Kehilangan itu seperti rasa kehilangan panduan untuk meneruskan impian – impian yang sudah direncanakan. Kehilangan pasangan itu layaknya rasa kehilangan seorang teman berkeluh kesah. Meski terkadang kehilangan pasangan itu bersifat sementara karena masih bisa digantikan dengan pasangan yang baru. Dan biasanya perasaan sedih itu semakin mendalam tatkala pertanyaan – pertanyaan muncul mengenai bagaimana dengan anak – anak. Jika seorang istri yang meninggal akan muncul pertanyaan siapa yang akan mengurus rumah dan anak – anak ? Dan kalau seorang suami yang meninggal duluan akan muncul pertanyaan, nanti siapa yang membiayai anak – anak ?

    Dan untuk kehilangan belahan hati bisa jadi itu awal dari hancurnya hati orang tua. Bayi kecil yang lahir dari hasil buah cinta pasangan dua sejoli. Sebagai perekat dari dua ego yang berbeda. Dibesarkan dengan sentuhan cinta dan belaian sayang. Tempat dititipkannya do’a kedua orangtua dengan harapan kehidupan anaknya lebih baik dari orang tuanya. Seorang anak rela “memaksa” orang tuanya menjadi apa saja asal kebutuhan anaknya terpernuhi. Seorang buah hati yang bisa “memaksa” orang tuanya merasa baik – baik saja padahal dunia sudah berantakan. Kehilangan seorang buah hati bisa jadi hilangnya sebuah harapan dari orang tua.

    Mobil itu masih melaju pelan menembus hiruk pikuk kendaraan lalu lalang. Kuhiraukan sebuah pesan di handphoneku yang meminta untuk segera kembali ke toko karena masih ada pesanan yang harus diantar. Perasaanku masih saja berkecamuk. Namun satu hal yang ku yakini adalah kita pasti akan merasa kehilangan. Suka atau tidak suka, cepat atau lambat, mau atau tidak mau, siap maupun tidak. Kita akan pergi atau ditinggal pergi. Karena setiap yang bernyawa pasti akan menemui Tuhannya. Dan jangan tanya kenapa ? Karena kita hanyalah seorang hamba.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jadi muslim itu tidak enak (2)

Ayah, aku mohon maaf........

KETIKA TAK ADA LAGI YANG MEMANGGILMU PULANG