SANG BADUT

 



            Minggu sore itu, jalan raya terlihat lengang. Langit masih berselimut awan kelabu menandakan kalau hujan masih akan tetap turun. Beberapa hari ini hujan selalu turun. Namun, hari ini hujan datang lebih awal hingga membuat semua aktivitas seolah berjalan lambat. Mungkin karena sebagian besar orang memilih berdiam di rumah. Rintik – rintik hujan menari riang di genangan – genangan air dari membentuk pola lingkaran kecil berganti menjadi bentuk yang semakin lama semakin tidak beraturan mengikut irama derasnya hujan yang turun.

Di depan sebuah kedai kecil yang sedang tutup tampak seorang lelaki separuh baya sedang duduk di atas lantai. Tangannya memeluk kedua lututnya untuk mengurangi rasa dingin dari cuaca sore itu dan juga rasa dingin karana kostum badut yang dipakainya telah basah terkena hujan. Pandanganya tertuju pada genangan air dengan tetesan air hujan yang berasal dari atap tempat dia berteduh. Sesekali matanya memandang ke atas langit. Seakan – akan dia berkata,  Tuhan berhentikan hujan ini sebentar saja. Sebuah topeng badut dengan ekspresi senyum tepat berada di sisi kanannya. Lelaki yang rambutnya mulai memutih itu biasa beraktivitas di perempatan lampu merah tidak jauh dari tempat dia berteduh. Hari itu dia tetap memilih untuk “ masuk kerja “ meskipun hujan sementara sebagian teman – temannya yang “berkantor” di perempatan yang sama memilih untuk “ bolos kerja “. Sudah beberapa hari ini pemasukannya menjadi seorang badut jauh dikatakan cukup. Sedangkan perasaan lapar membuat perutnya semakin meronta – ronta. Sedangkan makanan yang masuk ke mulutnya hanyalah sebungkus nasi pemberian seseorang di lampu merah yang telah dimakan bersama istri dan sepasang anaknya kemarin siang.

            Lelaki itu menundukkan kepalanya. Mencoba menyembunyikan perasaan gundah gulananya. Tubuh kurus itu pun di sandarkannya ke dinding. Matanya melirik ke arah topeng badut yang dari tadi memandangnya dengan tatapan keceriaan dengan senyum sumringah tanpa beban. Di raihnya topeng itu dan dikenakannya. Dan sekarang tidak ada lagi yang bisa melihat raut wajah yang ada di balik topeng badut itu.  Raut wajah kecemasan namun tak bisa berbuat apa – apa. Dia hanya berusaha menutupi  keresahan hatinya.

Baginya topeng badut itu sebuah kamuflase dari keadaan sebenarnya dari kehidupannya. Seakan – akan dunianya baik – baik saja. Topeng badut itu berupaya mengajarkannya tetap bersikap optimis dalam setiap hal meski terkadang kewarasan berfikir sudah mulai teracuni oleh realita. Topeng badut yang selalu tersenyum sumringah walau yang mengenakannya sedang menangis karena harus menanggung tanggung jawab sebagai suami dan juga seorang ayah. Yang sedang berjuang keras untuk menghidupi istri dan sepasang anaknya dengan kehidupan yang lebih baik. Dan terkadang harus menahan perasaan atas omongan orang bahkan juga dari keluarga senddiri. Topeng badut mengajarkannya untuk tetap tersenyum dari setiap tatapan yang merendahkan dari orang – orang disekitarnya dan menyiratkan selalu berusaha tegar dalam kepedihan.

Namun bagi sebagian orang topeng badut itu bisa jadi hanyalah sebuah simbol kepura – puraan dari ketidakwarasan manusia. Ketika manusia terlalu mudah untuk menghakimi suatu peristiwa yang bahkan bersumber dari katanya dan kemudian tanpa dasar keilmuan memutuskan apa yang pantas dan tidak pantas untuk dilakukan. Berpura – pura peduli akan keresahan setiap perasaan orang lain. Sehingga sulit membedakan senyuman mana yang menyiratkan ketulusan atau hanya tuntutan lakon semata. Sebagai makhluk sosial terkadang kita terperangkap dalam situasi yang melelahkan hanya karena topeng - topeng badut di sekitaran kita. Berekspresi senyum di luar namun ironisnya beraut wajah sinis di dalam.

            Dan saat ini pun kita sedang berlakon dalam pertunjukan kehidupan masing – masing dengan topeng – topeng yang kita kenakan. Topeng kejujuran atau topeng kepura – puraan. Topeng yang berharap akan sebuah pengakuan dari topeng lain atau sekedar berlakon sesuai arahan sang sutradara dan berharap penilaian yang baik dariNya. Alur cerita yang sedang kita jalani pun berbeda – beda dan satu hal yang pasti kita juga tidak pernah tahu bagaimana akhir dari cerita kehidupan ini.

 

******

 

            Hujan bertambah deras. Lelaki bertopeng badut itu bertambah gelisah. Seketika air matanya tumpah mengalir membasahi kerutan di pipinya

            Tuhan... aku lelah” gumamnya lirih

            “ Rasanya aku ingin menyerah saja. Namun Kau melarang aku untuk menyerah” lelaki itu menghelah nafas panjang, matanya melihat arah langit. Air matanya terus menetes seiring tetesan air hujan dari awan kelabu. Terbayang wajah istri dan anak – anaknya yang sedang menunggu kepulangannya. Ingin pulang kerumah di kantongnya hanya ada uang dua ribu rupiah dua lembar.

            “ Tuhan, anak dan istriku sedang lapar di rumah” adunya

             Rintihan kesedihan itu terselubung senyum sebuah topeng badut. Tangisan itu pecah bersama butiran – butiran air hujan yang berebut menghempas bumi. Tak ada yang bisa dilakukannya kecuali hanya terus bergerak dan berharap. Berharap suatu saat kehidupannya akan menjadi lebih layak.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jadi muslim itu tidak enak (2)

Ayah, aku mohon maaf........

KETIKA TAK ADA LAGI YANG MEMANGGILMU PULANG