Aku dan matematika
Awalnya saya merasa tidak pantas kalau saya menulis tentang pendidikan. Karena saya bukan seorang pendidik dan pedidikan saya pun hanya sampai tingkat aliyah. Tapi rasanya tidak baik juga kalau saya memendam uneg - uneg saya tentang pendidikan di Indonesia. Bersyukurlah bagi anak - anak Indonesia yang masih terjangkau dengan mudah tempat tinggalnya. Informasi dengan cepat dan gampang di akses. Beda sekali dengan anak - anak di Papua, masih ada kita temukan anak sekolah yang tidak memakai alas kaki. Mungkin tidak punya uang untuk beli sepatu atau memang tidak biasa pakai sepatu. Belum lagi anak - anak yang tinggal jauh dari dunia peradaban kota. Mungkin sekolah hanya merupakan sambilan saja. Tapi itulah ragam pendidikan di Indonesia yang mungkin hanya di Indonesia.
Ketika kita sekolah dulu, baik itu tingkat SD, SMP dan SMA pasti ada yang namanya pelajaran favorit karena kita mungkin menyukai mata pelajaran tersebut.atau guru yang menyampaikan asyik. Nah, kalau ada favorit pasti ada yang gak disukai. Biasanya pelajaran berhitung dan biasanya yang ngajar keras - keras. Kalau bagi murid yang otaknya memadai sih enjoy - enjoy aja, berhitung ayo, hapalan sikat, diskusi jago. Pokoknya enjoylah. Dan saya termasuk murid yang kurang dalam pelajaran berhitung tapi kalau hitung duit, berapa pun ligat....dasar mata duitan....Sebelum saya teruskan, kadang saya suka bertanya - tanya kenapa yang namanya guru matematika itu tegas dan biasanya gampang marah. Ketika saya SD, semua murid di kelas saya pasti pernah kena pukulan penggaris kayu panjang olehnya. Jadi, kalau sudah pelajaran matematika, perasaan gak nyaman, ya takut, ya bingung yang jelas gak tenang seperti punya salah saja. Tapi mungkin hal itu berlaku bagi semua mata pelajaran yang pengajarnya tidak termasuk kategori menyenangkan.
Sekarang, setelah saya mulai bisa berhitung, saya mulai berfikir begini, Tuhan menciptakan otak manusia dengan kadar yang sama yang membedakan cuma asupan gizi waktu kita dalam kandungan ibu kita masing - masing dan asupan itu akan berpengaruh dalam perkembangan otak. Apalagi 3 bulan masa pertama kehamilan sangat - sangat penting sekali buat si bayi. Dan kalaupun ada yang terlahir sebagai anak jenius mungkin rezki buat dirinya. Lalu saya beranggapan kalau otak manusia sama kenapa harus ada sebutan anak bodoh untuk seorang murid. O.. bukan bodoh tapi malas. Tapi sudah menjadi kekeliruan yang lumrah bagi pendidikan di Indonesia untuk mengatakan seorang murid yang kurang nangkap dalam pelajaran dengan sebutan bodoh. Lalu bagaimana dengan seorang guru ? Apakah mempengaruhi seorang murid dalam belajar. Saya bilang ya. Saya katakan tadi kalau saya salah satu murid yang kurang pintar berhitung. Tapi itu semua sedikit berubah ketika saya masih duduk di sekolah Tsanawiyah ( sekolah setingkat SLTP ), waktu itu saya sudah kelas 3. Dan guru ( saya masih ingat namaya pak Jumadi ) yang mengajar matematika menurut saya asyik dan gampang di terima akal. Dan saya nyaman mengikuti pelajarannya. Dan untuk satu tahun itu matematika bukan lagi menjadi momok untuk saya. Tetapi menjadi pelajaran yang saya tunggu - tunggu.
Ternyata bukan mata pelajaran sumber ketidakmampuan seorang murid dalam menerim pelajaran. Tapi guru yang bisa menciptakan suasana nyaman bagi anak didiknya juga mempengaruhi daya tangkap si murid. Lain kalau memang muridnya pemalas biar suasananya nyaman sekali pun ya tetap gak connect juga. Tapi mereka yang malas tetap tidak bisa dibeda - bedakan karena pasti mereka punya suatu potensi yang belum di gali.
Kita bisa lihat anak TK. Mereka selalu enjoy dalam belajar. Karena mereka semua merasa nyaman. Belum ada rasanya anak TK bolos sekolah karena takut karena ada pelajaran berhitungmya atau takut sama salah satu gurunya.
Beda sekali kalau di sekolah ada guru yang bawaanya ingin marah terus, senyum jadi barang mahal untuk hidupnya. Di tegur murid, hanya megeluarkan kata hmm doang. "Pak" kata muridnya "hmm" jawabnya, ha ha ha ha...ada - ada saja. Saya yakin suasana sekolah sudah kayak penjara kalau ada guru seperti ini. Menghukum sih tidak dilarang dalam belajar tapi hukuman yang manusiawi yang tidak memberi dampak negatif pada murid itu yang perlu di pertimbangkan. Karena setiap murid pasti memiliki keadaan psikologis yang berbeda - beda. Ada yang memang bebal tapi ada juga yang sensitif.
Saya berkesimpulan bahwa, suasana nyaman bagi murid dalam belajar merupakan nilai tambah memudahkan seorang murid untuk menerima pelajaran. Kalau toh memang si murid agak lamabat menerima pelajaran, berarti perlu sedikit ekstra waktu untuknya. Bukan berarti dia tidak bisa karena tidak ada orang yang bodoh. Maju terus pahlawan tanpa jasa Indonesia.

Komentar
Posting Komentar