Benarkah mereka tersesat ?
Saya baru saja membaca berita tentang seekor macan tutul yang tersesat hingga memasuki daerah perkampungan. Peristiwa ini terjadi di sebuah desa di India. Ada satu hal yang mengusik pikiran saya waktu membaca berita tersebut yaitu benarkah seekor hewan liar bisa tersesat di dalam hutan yang notabene adalah rumahnya hingga masuk ke perkampungan manusia ? Mungkin para pakar kehewanan tahu jawaban dari pertanyaan saya itu. Saya pernah membaca bahwa seekor hewan, jika sampai keluar hutan, itu disebabkan karena mereka merasa terancam. Misalnya akan terjadi bencana atau gunung akan meletus dimana mereka tinggal. Makhluk Allah yang bernama hewan ini diciptakan lebih peka dengan kejadian alam disekitarnya. Bahkan hewan - hewan di hutan memilih untuk menghindar dari jalan yang biasa dijalani oleh manusia di dalam hutan atau gunung.
Saya kira merupakan sesuatu yang janggal jika hewan sampai tersesat di dalam hutan. Karena, hewan - hewan yang tinggal di hutan pasti memiliki insting yang cukup baik tentang "kandang" mereka. Kalau kelaparan yang menyebabkan mereka keluar hutan, pertanyaan baru akan timbul, mengapa mereka kekurangan makanan, sudah habiskah persediaan makanan mereka atau tidak berimbangkah populasi kucing - kucing raksasa ini dengan kehidupan hewan lain yang ada di dalam hutan ?
Hutan diciptakan sebagai paru - paru dunia dan di dalamnya hidup berbagai satwa. Binatang buas ditakdirkan sebagai penyeimbang habitat di dalam hutan. Bayangkan bila tidak ada binatang buas seperti macan, harimau dan lain sebagainya di dalam hutan. Hutan akan penuh sesak dengan hewan - hewan herbivora. Kalau hutan sudah penuh dengan hewan pemakan tumbuhan saja, bisa gundul tu hutan. Dan kehidupan pun jadi tidak seimbang.
Ada satu jawaban dari pertanyaan diatas yaitu semakin kecilnya tempat hewan - hewan itu tinggal. Penyebabnya tidak lain dan tidak bukan adalah kita, makhluk "tercerdas" yang ada di muka bumi. Dimana - mana hutan berubah fungsi menjadi perkebunan - perkebunan, di bangun pabrik pengolahan kayu. Menebangi pohon - pohon di hutan tanpa ditanami kembali. Atau di tebang 10 batang pohon yang ditanam cuma 2 atau 3 batang saja. Menebang tidak pandang bulu, bila kira - kira sudah menghasilkan, langsung tebang. Ada satu contoh ketika saya pertama kali merantau ke pulau jawa sekitar tahun 1999. Saya menggunakan jasa angkutan umum dari kota Pematang Siantar ke Jakarta. Perjalanan itu memakan waktu 2 hari 3 malam. Waktu itu, disepanjang perjalanan dari Sumatera Utara sampai Sumatera Selatan mata saya tidak lepas dari pemandangan hutan yang lebat. Ada pun perkebunan paling perkebunan penduduk. Penebangan pun sudah ada tapi masih jarang - jarang saya lihat atau mungkin sudah banyak tapi tidak kelihatan saja oleh mata saya. Waktu itu pun saya sudah melihat beberapa wilayah hutan yang di bakar dan di manfaatkan sebagai kebun. Namun selang 3 tahun ketika saya pulang kampung, hutan yang lebat itu seperti di cukur tidak beraturan. Gundul sana - sini. Kalau pun memanfaatkan kayunya atau lahannya tidak masalah tapi saya tidak melihat adanya tanaman - tanaman baru sebagai ganti dari pohon yang di tebang. Dan sekarang, hutan Indonesia sudah masuk ke tingkat yang mengkhawatirkan. Hampir setiap tahun 4 juta hektare hutan Indonesia rusak. Padahal hutan Indonesia sudah dinyatakan sebagai paru - paru dunia. Apa jadinya bumi tanpa "paru - paru".
Jadi suatu hal yang wajar bila hewan - hewan di hutan merasa terancam hingga akhirnya masuk ke perkampungan. Seperti baru - baru ini juga terjadi di daerah riau, sekawanan gajah masuk dan merusak perkebunan penduduk dan hal itu tidak pernah terjadi sebelumnya. Manusia yang menjadi makhluk cerdas di muka bumi ini kadang menjadi makhluk "terbuas" di muka bumi. Lalu ketika hutan semakin menyempit, bagaimana dengan nasib saudara - saudara kita yang masih bergantung dengan hutan. Seperti suku dayak di kalimantan, suku anak dalam di daerah hutan jambi atau suku - suku yang ada di papua. Mereka hidup dan tinggal di sana dan mereka tahu bagaimana memanfaatkan dan melestarikan hutan. Apakah mereka juga harus keluar hutan yang sudah menjadi rumah ternyaman turun temurun bagi mereka. Apa bedanya dengan kita yang biasa hidup dengan segala macam sarana dan kemodernan harus tinggal di dalam hutan. Pasti kita tidak akan merasa nyaman dan memerlukan ekstra waktu untuk beradaptasi.
Hewan yang ada di hutan tidak pernah keluar hutan untuk berburu ke dalam kota tapi manusialah yang masuk ke dalam hutan untuk berburu. Terkadang hewan terlihat lebih "cerdas" dalam menjaga dan memanfaatkan apa yang ada di "kandang"nya sementara manusia terkadang terlihat seperti makhluk "dungu" dengan berbagai pengetahuannya.
Benarkah mereka tersesat ?


Komentar
Posting Komentar