Ijazah vs Skill
Ada kecendrungan di setiap perusahaan atau instansi di Indonesia selalu mengedepankan ijazah dalam menentukkan layak atau tidaknya seseorang bekerja di lembaga atau perusahaan itu. Mungkin mereka beranggapan bahwa yang lulus dengan sebuah gelar akan terampil dalam mengatasi setiap masalah dalam perusahaannya. Atau mungkin bila dalam sebuah perusahaan di pekerjakan sarjana - sarjana terbaik akan menambah kebonafitan perusahaan tersebut. Pertanyaannya adalah apakah setiap sarjana itu mempunyai skill di bidang yang dipelajarinya. Jawabannya bisa iya bisa tidak. Apa seseorang yang lulus dengan sarjana ekonomi bisa disebut ahli atau berskill dalam bidang ekonomi. Bagaimana dengan orang yang tidak sekolah tinggi dan tidak pernah berhenti belajar dalam praktek langsung di lapangan yang mungkin bisa lebih terampil dan lebih siap dalam menghadapi situasi apapun dibanding orang yang berpendidikan dari dirinya.
Kebetulan saya ada kenal seorang mekanik dan dia menurut saya bukan mekanik sembarangan karena dia seorang mekanik khusus mobil - mobil mewah seperti BMW, Mercedes Benz dan sejenisnya. Tahukah anda dia lulusan apa, dia hanya mengenyam sampai SD yang itu pun tidak sampai selesai. Lalu apakah orang seperti dia ini tidak bisa dipekerjakan di perusahan otomotif. Tapi alhamdulillah kenalan saya ini sekarang jadi mekanik "panggilan" karena katanya duitnya lebih kelihatan dan tidak terikat dengan peraturan.
Sekolah selalu dan menjadi hal penting di jaman sekarang ini. Jaman yang serba smart. Handphone ada yang tipe smart phone. Mobil ada yang sudah dilengkapi dengan penunjuk jalan supaya tidak salah jalan, biasa alat ini disebut GPS atau Global Positioning System termasuk smart juga jadi kalau kita tidak ikut smart bisa ketinggalan terus. Setiap tingkat ekonomi berbeda - beda dalam menanggapi pentingnya sebuah pendidikan. Kalau yang berasal dari keluarga berpendidikan selalu akan mengusahakan anaknya sekolah sampai tingkat tertinggi sementara bagi keluarga yang kurang mampu atau jauh dikatakan mampu sering beranggapan bisa baca dan tulis aja sudah cukup. Mungkin karena faktor biaya sekolah yang mahal atau memang orang tua yang tidak memiliki pengalaman sekolah yang memadai. Bisa saja orang yang kurang mampu mendapat sekolah gratis dengan "katanya" mengurus surat keterangan miskin. Mengurus surat miskin saja sudah dikenakan biaya administrasi yang lagi - lagi "katanya" gratis.
Pengalaman seseorang dalam menjalani pekerjaan yang dijalaninya akan menjadikannya orang yang ahli dibidangya. Seorang anak yang putus sekolah misalnya yang bekerja sebagai tenaga bantu disebuah bengkel, meski awalnya hanya tukang pegang sana sini, ambil kunci ini dan itu, tidak menutup kemungkinan suatu saat dia bisa menjadi seorang mekanik handal. Contoh lain seorang musisi, ada banyak contoh musisi di Indonesia atau bahkan dunia yang tidak mengenyam pendidikan khusus tentang musik. Misal Bon jovi memulai karirnya hanya sebagai penjaga studio musik tapi lihat apa yang telah diraihnya, bandnya termasuk band yang berpengaruh pada abad 20 ini atau Erwin gutawa yang belajar musik dengan cara otodidak tapi coba saksikan sekarang, dia termasuk peracik musik kenamaan di Indonesia. Intinya kemauan yang kuat dan tekad pantang menyerah dan tidak berhenti belajar dapat mengantarkan seseorang menjadi seorang ahli yang bertalenta. Memang seseorang yang berpendidikan tinggi di tambah skill yang memadai serta sarat dengan pengalaman merupakan nilai tersendiri buat dirinya meraih sebuah kesuksessan.
Kadang saya merasa lucu bila membaca lowongan pekerjaan di salah satu media massa. Biasanya , akan tertulis begini : dicari teller , lulusan S1jurusan apa saja, usia maksimal 25 tahun atau kami perusahaan yang bergerak di bidang otomotif membutuhkan karyawan untuk ditempatkan pada posisi sales manajer diutamakan lulusan S1 jurusan apa saja, pengalaman tidak diutamakan. Apa ada yang keliru dari iklan lowongan pekerjaan ini ? S1 jurusan apa saja, yup, itu yang keliru. Coba anda telaah benar - benar. Kalau anda seorang yang cermat pasti mengerti kenapa saya bilang itu keliru. Mengapa jarang sekali memberikan kesempatan untuk orang - orang yang benar - benar mau belajar dan serius dalam bekerja. Meskipun lmungkin atar belakang pendidikannya tidak memuaskan. Orang - orang yang mau berkeringat saat bekerja baik ada yang mengawasi atau tidak. Orang - orang yang berusaha bekerja ikhlas tanpa ada jurus - jurus menjilat atau memprokasi agar dapat kedudukan yang lebih baik. Dan kemudian apa yang harus diutamakan ijazah atau skill ?

saya sangat setuju dengan anda
BalasHapussaya sangat setuju dengan anda
BalasHapusKedua-duanya memang penting tapi yg lebih diutamakan adalah skill.akan tetapi negara kita tidak memandang ke situ atau ke skillnya mereka lebih memandang ke gelar gelar ijazah dan sarjana,contohnya S1,S2 dan sbgainya.
BalasHapusCaranya bagaikan kita perlihatkan kepada pemerintah bahwa,skill adalah yg utama,kalau ijazah itu blakangan juga tidak apa-apa,akan ttpi yah pemerintah lebih memandang gelar atau ijazah bukan skill
BalasHapus