OBED ( Sebuah Potret )


Sinar matahari pagi mulai menembus celah - celah dinding sebuah rumah kayu. Rumah itu nyata sekali berbeda dari rumah - rumah yang ada di sekitarnya. Hampir semua rumah di kampung itu sudah dibangun permanen hanya ada satu - dua rumah yang setengah batu. Keadaan rumah yang satu ini pasti akan mencuri perhatian orang - orang yang sekedar lewat atau datang berkunjung ke rumah famili yang tinggal di kampung itu. Karena memang keadaan rumah itu sangat memprihatinkan bahkan sudah tidak layak huni. 

Suasana pagi itu lebih dingin dari biasanya. Terasa menembus sampai ke sumsum tulang. Memberatkan mata untuk terbuka. Menghinggapi rasa malas buat para pekerja. Tapi tidak buat Obed. Pagi - pagi sekali dia sudah harus mengangkat air dari rumah seorang kerabat ibunya yang berada tidak jauh dari rumahnya. Pekerjaan itu hampir setiap hari dikerjakanya sebelum dia berangkat ke sekolah. Dia harus memenuhkan bak mandi serta ember - ember penampungan buat air minum juga untuk keperluan sehari - hari. Belum lagi kalau air habis, dia harus mengangkatnya kembali sepulang sekolah.

Setelah bak dan wadah penampungan penuh, Obed masuk ke kamarnya. Direbahkan badan hitam kurusnya yang masih basah dengan keringat pada bale bambu berukuran tak sampai 1 x 1 meter. Pikirannya jauh melayang sudah seperti seorang tua yang sarat akan, sedang memikirkan masalah kehidupan. Bale bambu yang  sebagian batangnya sudah dimakan rayap itu sudah kelihatan sangat usang sehingga kalau bergerak atau berganti posisi sedikit akan berbunyi seperti musik orkestra tidak beraturan. Dan harus ekstra hati - hati untuk menaikinya karena takut patah. Sepertinya hanya tubuh kurus Obed yang kuat ditopang bale itu, kalau ada beban yang agak berat sedikit, mungkin bale itu akan segera patah. Bale bambu itu pemberian tetangga Obed waktu akan pindah rumah ke kampung sebelah. Di bale bambu itulah dia tidur atau sekedar merebahkan badan juga biasa di pakai sebagai meja untuk belajar.

Obed sering belajar sambil telungkup mengerjakan PR atau sekedar membaca buku sehingga sering sekali Obed tertidur di bale bambu itu sampai pagi.

"Braakk...." tiba - tiba suara pintu depan didobrak sangat kuat membuat hampir seluruh rumah itu bergoyang seperti terkena gempa. Suara itu memecahkan keheningan pagi itu dan terang saja hal itu membuat seisi rumah terperanjat. 

Pecah tangis adik Obed yang baru berusia dua tahun pun ikut menghancurkan suasana pagi. Namun Obed hanya sedikit terperajat seolah sudah biasa dengan suara itu. Obed tetap diam seribu bahasa dan tidak segera melihat apa yang baru terjadi. Dia hanya berusaha menghabiskan sisa waktu sebelum dia berangkat ke sekolah.

Tampak lelaki bertubuh kekar yang tak lain adalah bapak Obed berdiri di depan pintu, seakan ingin memastikan dia tidak masuk ke dalam rumah yang salah.. Badan kekarnya tidak mampu berdiri tegak lagi. Sejenak pria itu tertahan di pintu. Menahan rasa kantuk dengan sisa mabuk semalam. Sebotol minuman keras di tangan kanannya, sedangkan tangan kirinya bergelayut dikusen pintu. Pria yang masih keliatan muda itu memasuki rumah dengan langkah gontai tak beraturan.

" Ko..ini asyik mabuk saja. Pulang pagi pasti ko mabuk. Ko.. tra ingat ko pu anak istri kah". Hardik seorang perempuan muda yang keluar dari kamar sambil menggendong anak kecil yang sedang menangis dan  perempuan itu berusaha mendiamkannya dengan cara mengoyang - goyangkan tubuhnya sambil memasukkan botol dot kosong kedalam mulut anaknya. Perempuan muda itu adalah ibu Obed. "cup..cup..cup.." katanya sesekali pada anak kecil itu.

"Bei, ko tra usah atur sa pu hidup. Sa mo pulang pagi kah, mo mabuk kah. Itu sa pu urusan". Celah bapak Obed sambil berjalan gontai menuju kursi sofa butut. 
"Hei... ko itu seorang suami. Ko yang seharusnya cari nafkah buat ko pu anak - anak. Jangan mabuk saja yang ko tahu". Ibu Obed terlihat sangat kesal dengan bapak Obed
Bapak Obed memang seorang pengangguran. Sementara penghasilan keluarga Obed di dapat kalau ada kapal putih berlabuh yaitu sebuah kapal besar yang biasa datang membawa penumpang yang datang dari berbagai pulau di Indonesia dari pulau jawa sampai kepulauan laut makassar dan daerah - daerah lainnya. Biasanya kapal putih ini berlabuh seminggu dua kali.  Antara hari senin dan Jum'at namun kadang kedatangan kapal ini bisa tidak sesuai jadwal karena mungkin faktor cuaca atau gelombang laut. Bapak Obed biasa jadi kuli panggul untuk kapal putih ini. Karena kebetulan juga rumah Obed dekat dengan pelabuhan. Sebenarnya hasil dari bekerja bapak Obed cukup membantu perekonomian keluarga Obed tapi dikarenakan bapak Obed punya kebiasaan mabuk dan judi, jadilah keluarga ini serba memprihatinkan.
" Ah... ko cerewet sampe, mending ko ke dapur masak sana. Sa su lapar". Pinta bapak Obed
" Apa ko mo saya masak, mo masak apa ? sudah dua hari ko tra kasih uang belanja"
" Pokoknya masak, terserah ko masak apa, masak mie kah. sa lapar" bentak bapak Obed 
" Eh..ko pikir pake otak kah. Sa tra da uang, mau beli mie pake apa. Mending ko cari kerja to biar kitorang bisa makan"
" Kurang ajar...." bapak Obed bangkit dari tempat duduknya sambil menunjuk ke wajah perempuan itu. " Ko su berani atur saya. "Bangsat..." Plak...sebuah tamparan tepat berbekas dipipi perempuan muda itu. Perempuan itu sedikit terhuyung terkena tamparan suaminya dan hampir menjatuhkan anak yang ada digendongannya dan masih belum berhenti menangis. Airmata spontan menetes dari kedua sudut mata ibu Obed. Namun wanita itu masih terlihat tegar setelah mendapatkan tamparan telak dari suaminya. Karena bukan baru sekali itu dia mendapat hadiah terpahit berupa tamparan dari suaminya. Bahkan bekas luka jahitan di pelipis sebelah kanan perempuan itu menjadi saksi bisu perlakuan keras suaminya terhadap dirinya. 

" Apa, ko mo melawan" tantang bapak Obed
" Bajingan.. " teriak ibu Obed sambil melemparkan botol dot yang mengenai kepala lelaki itu. Sontak emosi lelaki itu semakin tersulut. Didorongnya wanita kurus itu. Sekali dorongan langsung merobohkan tubuh kecil itu. Perempuan itu jatuh dengan siku tangan  kanan menahan berat tubuhnya sementara tangan kirinya tetap berusaha mendekap anak yang ada di pelukannya. Tanpa kasihan lelaki kekar itu memberikan sebuah tendangan ke pantat ibu Obed. Dengan sambil mendekap anak yang semakin keras tangisannya, perempuan hitam itu menahan betapa sakitnya sepakkan suaminya dengan meringkuk di sudut ruangan kumuh itu.

Sementara Obed dari tadi hanya mengintip pertengkaran orang tuanya dari balik tirai kamar yang berfungsi sebagai pembatas antara ruang tamu yang juga berfungsi sebagai ruang makan dengan kamar Obed yang memang tidak berpintu. Kejadian itu hampir setiap hari menjadi bagian dari keseharian Obed. Kalau tidak pagi, siang atau bahkan tengah malam pasti ada bertengkar. Seolah menjadi tontonan yang menyedihkan bagi anak seusia Obed. Dia hanya menangis melihat ibunya diperlakukan seperti itu. Bibirnya keluh tak kuasa mau mengatakan apa - apa. Ingin marah, tidak mempunyai cukup keberanian dan kekuatan untuk menghentikan bapaknya. Anak yang baru duduk di bangku kelas 2 SD itu hanya sanggup menyaksikan perlakuan bapaknya terhadap wanita yang telah melahirkannya dari bari tirai kamar. Anak kecil itu berusaha menahan tangis agar tidak di dengar oleh bapaknya. Kalau sampai terdengar, dia pun akan menjadi pelampiasan kemarahan bapaknya. Tak kuat menyaksikan dan mendengar pertengkaran itu, Obed memutuskan untuk keluar dari rumahnya dengan berlari sekuat dan sekecang yang dia bisa. Tubuh kurus itu keluar dengan berlari dan mendorong bapaknya yang gontai. Karena memang masih mabuk tubuh kekar itupun jatuh. Sontak lelaki itu meneriaki nama Obed hingga teriakannya terdengar beberapa meter dari rumahnya.
" OBED......" teriak laki - laki itu. Obed terus berlari dan tidak memperdulikan teriakan laki - laki yang panggilnya bapak itu.  Entah apa yang ada dibenak anak itu. Dia juga tidak peduli dengan hukuman yang pasti akan diberikan bapaknya jika pulang nanti. Setidaknya tangkai sapu yang biasa digunakan bapaknya untuk memukul pasti akan siap menghampiri betis atau pantatnya. Tapi dia tidak peduli. Obed terus berlari sampai hilang di tikungan jalan.

Lelaki berotot itu berusaha bangkit setelah jatuh di dorong Obed  tadi. Lelaki itu seperti semakin tidak terkendali. Dilemparkan dan dibanting apa saja yang di lihatnya. Kursi, vas bunga bahkan lemari tua yang satu - satunya perabot mewah di ruangan itu tidak luput dari amukannya. Setelah puas melampiaskan amarahnya,  dengan tubuh gontai  laki - laki itu berusaha meraih sofa butut yang sudah tidak berada di posisi seperti biasanya. Namun belum sampai tangannya meraih sofa tersebut. Tiba - tiba ibu Obed berlari  dan berusaha menggapai botol minuman yang terlempar dari atas meja saat suaminya mengamuk tadi. Tanpa pikir panjang dia pukul kepala laki - laki itu dengan botol minuman. " Pranggg...." seketika botol minuman pun pecah di atas kepala lelaki itu tak lama berselang, darah segar pun mengalir dari kepala bapak Obed. "Bruuug....." tubuh kekar itu pun roboh seketika. Dengan darah di kepalanya.

"Lebih baik ko mati sudah" hardik perempuan itu sambil menangis. " Tra da gunanya ko hidup, ko kira sa kuat dengan tingkah lakumu kah. Setiap ko mabuk, selalu marah - marah, ko pukuli. ko tendangi sa sesuka hatimu sudah kayak binatang saya ko bikin. Ko tak kasihan deng anak - anakmukah, mati..mati saja ko...." teriak ibu Obed puas dengan tangis yang semakin memecah suasana. Ibu Obed melampiaskan kemarahannya pada tubuh laki - laki yang terkapar di lantai itu. Tubuh kekar itu diam tak bicara. Suara tangisan ibu dan adik Obed saling bersahutan di ruangan itu.


**************************************************************************
Tubuh hitam kurus itu berjalan pelan di antar deretan pohon pinang yang tertata rapi di pinggiran jalan. Sinar matahari sore yang mulai tenggelam sesekali menembus pelepah - pelepah pohon pinang. Dan terasa hangat bila terkena kulit. Tubuh kurus itu, tak lain adalah Obed. Langkahnya setengah hati menuju rumah yang sudah memberikan banyak kisah untuk hidupnya. Dengan perut lapar yang dari tadi memang belum di isi. Ditambah perasaan takut akan kemarahan bapaknya dan pasti ada hadiah kecil berupa pukulan untuk dia atas perbuatan nekatnya tadi pagi. Perasaannya berkecamuk tidak menentu. Perasaan yang tidak seharusnya dirasakan oleh anak - anak seusia Obed. Perasaan yang akan berpengaruh untuk kehidupannya kelak. Perasaan yang sudah membuatnya menjadi seseorang yang takut mengeluarkan pendapat. Perasaan cemas yang menghantuinya setiap saat. Langkah itu terhenti di depan rumah yang menyimpan setiap luka - luka dalam hatinya. Obed bingung memutuskan untuk masuk atau hanya diam di luar rumah. Dikuatkannya langkah kaki kecilnya untuk masuk kedalam rumah. Pandangannya tersebar ke segala penjuru. Sambil menduga - duga, apa yang telah terjadi setelah kepergiannya tadi pagi. Pecahan kaca dan ceceran darah berserakan di lantai. Kursi, meja dan lemari berantakkan tak tentu arah. Hatinya semakin bingung. "Mama..." teriaknya sambil berlari menuju kamar. "Mama...." teriaknya semakin kuat. Dia berlari memeriksa setiap sudut rumah itu tapi dia tidak menemukan seorang pun dalam rumah itu. Tangis Obed pecah seketika. Dia tidak mengerti harus berbuat apa. Obed berjalan menuju kamar kebesarannya. Kemudian duduk di pinggiran bale bambu kegemarannya. Tangisnya menggema di ruangan yang lebih banyak berisi barang - barang yang tidak layak pakai lagi itu. Setiap benda yang ada di setiap sudut ruangan itu seolah ingin bercerita tentang apa yang telah terjadi. Seakan dinding kamar itu turut merasakan kegalauan hati Obed. Sesekali dia sesunggukan menahan tangis.
Seorang lelaki tua yang biasa di panggil tete oleh Obed, masuk menghampiri Obed. 
"Mama dan ko pu bapak ada di rumah sakit. Jadi malam ini ko tidur di tete pu rumah" kata laki - laki tua itu menawarkan.

**************************************************************************
Malam itu cukup terang dengan cahaya bulan yang hampir penuh. Bak lampu fijar bergantung di langit. Menerangi setiap sudut gelap dan menyeruak di antara celah - celah dedaunan. Angin bertiup lambat beraturan seperti berbisik - bisik pada setiap celah ruang. Dan melambaikan setiap pelepah pinang seakan - akan memanggil - manggil dari kejauhan. Angin malam itu seakan mengajak kita untuk tidur lebih awal. 
Lelaki kecil hitam berbadan kurus itu masih tidak bisa memejamkan matanya. Terkadang nafasnya tersendat - sendat, sisa tangisnya tadi sore. Pandangannya kosong menatap langit - langit kamar dan menghadirkan beribu tanya. Lelaki kecil itu menatap pada kegalauan hati yang penuh tanya. Seperti malam yang tidak selamanya menghadirkan bulan. Seperti malam yang masih menyimpan harapan untuk kedatangan mentari pagi esok hari.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jadi muslim itu tidak enak (2)

Ayah, aku mohon maaf........

KETIKA TAK ADA LAGI YANG MEMANGGILMU PULANG