Penggaris dan Lampu ( sebuah perumpamaan )

Penggaris dan lampu adalah dua buah benda yang setiap orang pasti sudah mengenal dan mengerti cara kerjanya. Jika penggaris biasa selalu menjadi teman murid - murid sekolah bahkan sampai pekerja kantoran sementara lampu selalu menjadi penerang bagi semua orang. Seandainya, eyang Thomas Alfa Edison tidak pernah menemukan bola lampu, mungkin, kita masih pakai lampu sentir yang berbahan bakar minyak. Belum lagi harga minyak terus bikin ketar - ketir isi dompet.  Tapi tidak juga sih, pasti ada eyang - eyang penemu lain yang akan menemukan bola lampu. 

Meski penggaris dan lampu memiliki fungsi yang berbeda, namun di waktu yang lain penggaris dan lampu bisa menjadi partner yang bisa dihandalkan. Misalnya seorang arsitek yang hampir dikesempatan kerjanya selalu menggunakan penggaris dan dia akan memerlukan sebuah penerangan lampu untuk menemaninya menyelesaikan sebuah karya pada malam hari. Atau pada malam hari seorang murid harus menyelesaikan tugas sekolahnya berupa menggambar bangun  - bangun yang ada dalam matematika, maka dia butuh sebuah penerangan untuk memudahkan pekerjaannya.

Kalau membicarakan fungsi, semua orang juga pasti sudah tahu penggaris gunanya apa, lampu buat apa. Ada sebuah pemikiran yang saya dapat dari penggaris dan lampu ini. Dengan tidak menggantikan fungsi sebenarnya tapi lebih mencoba menerapkan fungsi penggaris dan lampu dengan arti yang berbeda dalam kehidupan.

Setiap orang pasti selalu mengharapkan sebuah pencapaian peningkatan dalam hidupnya. Seorang pegawai selalu berharap dapat naik pangkat, apabila sudah merasa layak untuk naik pangkat, seorang pemuda ingin segera menikah, apabila  waktu dan niatnya sudah tepat, juga  seorang pedagang yang ingin mengembangkan usahanya, setelah mendapat tambahan modal. Atau seorang penggangguran yang segera ingin dapat pekerjaan. 

Namun, kita sering lupa diri setelah mendapatkan apa yang kita inginkan. Biasanya masih mau makan nasi hanya lauk seadanya.  Tapi setelah memiliki kehidupan yang lebih layak banyak keinginan yang harus tersedia di meja makan. Bahkan tidak di makan. Dan kalau ada seekor kucing yang mencuri ikan gorengnya, marahnya tidak ketolongan. Seperti mau dibunuhnya saja kucing tersebut. Padahal, kalau saja kucing itu tertangkap belum tentu atau bahkan tidak mungkin lagi ikan goreng itu bisa dimakan. Selain faktor kebersihan,faktor kesehatan juga akan menjadi pertimbangan.
Lalu apa hubungannya semua itu dengan penggaris dan lampu ?

Setiap yang hidup pasti akan mati, begitulah kita sering mendengar ungkapan seseorang. Kehidupan hampir sama dengan penggaris yang sewaktu - waktu berhenti, apabila sudah menemukan titik yang sudah ditentukan. Tidak bisa mengelak atau dimajukan sedikit pun.

Penggaris bisa juga diartikan sebagai pengukur suatu pencapaian seseorang dalam kehidupannya. Baik berupa pangkat dalam pekerjaan atau status sosial dalam bermasyarakat. Pun sewaktu - waktu bisa diambil juga dari dirinya. Baik karena sudah waktunya untuk dilepaskan atau diambil secara tidak mengenakkan seperti di copot karena melakukan kesalahan atau meninggal dunia.

Seberapa panjang penggaris ibarat perjalanan hidup yang akan kita lalui dan sebatas dengan apa yang sudah menjadi takdir hidup seseorang. 

Sementara lampu bisa diibaratkan penerang yang menjadi penuntun dalam kehidupan kita. Dalam hal ini bisa diartikan kitab suci. Bukan hanya sebagai bacaan tapi juga sebagai penuntun kita dalam hidup kita.

Kita memerlukan sebuah lampu sebagai penerangan dalam setiap hembusan nafas kita, supaya tidak salah jalan atau mungkin terperosok ke dalam sebuah lubang atau parit. Bayangkan dalam suasana yang gelap gulita, kita di minta berjalan dari titik yang satu ke titik yang lainnya. Saya bisa pastikan kita akan kebingungan. Bingung menentukan arah langkah yang selanjutnya. Dan pastinya hati diselimuti dengan perasaan cemas, takut dan biasanya suka berfikiran negatif. 

Namun bila ada lampu yang menerangi setiap langkah kaki ini, pasti kita akan merasa tenang dan tahu apa yang harus dilakukan. Begitu jugalah dengan hidup yang  menjadikan sebuah pencapaian adalah sebuah kebanggaan diri.

Merasa bangga bila jarak penghasilannya semakin jauh dengan orang lain. Tidak pernah berfikir di balik sebuah pencapaian, ada hak - hak orang lain yang akan menjadi kewajiban yang harus dipenuhi olehnya. Hak - hak orang lain yang bisa menjadi penerang dalam setiap langkahnya. Biasanya orang seperti itu akan merasa takut disaingi. Malam - malam tidurnya tidak nyenyak karena takut ada maling atau rampok datang kerumahnya. Kalau ada orang yang tidak di kenal datang ke rumahnya, curiga. Bila sudah dalam keadan seperti itu, kita memerlukan lampu untuk bisa menerangi setiap langkah kaki kita. Agar bisa tenang menyusuri penggaris yang sudah ditakdirkan.

Beda dengan seseorang yang biasa menerangi penggarisnya dengan sebuah lampu. Dia yakin, penggaris itu hanya berisi beberapa ujian dalam setiap milinya. Yang akan menjadi bahan evaluasi dalam hidupnya. Orang itu akan selalu optimis dalam setiap menempuh jarak disetiap mili penggarisnya. Dan akan selalu berusaha menjadikan setiap mili dari penggarisnya adalah sebuah kebaikan yang akan menjdai berkah di setiap nafas hidupnya.

Lampu bisa dikatakan sebagai simbol dari hati nurani. Lampu, dalam kehidupan sesungguhnya akan meredup dengan sejalannya waktu. Begitu juga dengan hati manusia, terkadang merasa dekat dengan Tuhannya, di lain waktu merasa tidak membutuhkan sebuah penerangan dari Tuhannya. Tugas kita selalu menjaga lampu agar tidak padam dalam menerangi setiap garis yang kita langkahkan. Dengan cara selalu mendekatkan diri ke hadirat Illahi. 

Hati nuranilah yang membedakan manusia dengan makhluk lainnya. Jika hati nurani seseorang sudah tidak ada, bisa dikatakan dia sama dengan hewan atau  bahkan bisa lebih kejam dari hewan. Hati adalah cermin. Sebagai tempat evaluasi bathin setiap manusia di muka bumi. 

Jadi, penggaris dan lampu mempunyai makna tersendiri dalam hidup. Pemikiran ini terinspirasi dari seorang teman ketika dia di terima bekerja di salah satu bank ternama di Indonesia. Dan pada waktu itu, saya melihat penggaris dan lampu di mejanya. Jadilah pemikiran ini tertuang kedalam secangkir goresan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jadi muslim itu tidak enak (2)

Ayah, aku mohon maaf........

KETIKA TAK ADA LAGI YANG MEMANGGILMU PULANG