Kisah mak alam dan manu ( sisi lain dari sebuah kisah )
Alkisah hiduplah seorang nenek pada sebuah desa yang bernama planetorium. Nenek itu sangat rentah, sehingga berjalan saja susah. Tapi syukur ada seorang dermawan memberikan kursi roda kepadanya. Sehingga dengan dibantu Perawatnya dia bisa melangkah lebih jauh bahkan lebih cepat dari nenek seusianya. Orang biasa memanggil nenek itu dengan sebutan mak alam. Beliau tinggal pada sebuah bangunan megah yang sudah tergerus oleh jaman, yang disulap menjadi sebuah panti jompo. Dia hidup bersama para jompo yang seusia bahkan ada yang lebih tua darinya. Mereka hidup dengan segala macam cerita suka dan duka.
Mak alam ini selalu menjadi pusat perhatian karena sikap yang diam. Hampir semua orang yang ada di desa itu tidak pernah mendengarnya berbicara atau melihatnya tersenyum. Kecuali yang hidup sejaman dengan dirinya.
Mak alam ini selalu menjadi pusat perhatian karena sikap yang diam. Hampir semua orang yang ada di desa itu tidak pernah mendengarnya berbicara atau melihatnya tersenyum. Kecuali yang hidup sejaman dengan dirinya.
Konon menurut cerita dari orang ke orang, mak alam ini dulunya adalah sosok yang sangat mengagumkan. Parasnya cantik, rambutnya panjang terurai rapi. Kulitnya putih terawat. Hampir setiap orang yang memandangnya pasti akan berdecak kagum akan kemolekan dirinya. Dia sosok yang bijaksana. Selalu memberikan manfaat bagi orang disekitarnya. Selalu tulus memberi dan selalu bersedia dimintai pertolongan. Dia selalu mendapatkan perawatan oleh Perawatnya. Perawatnya inilah yang senantiasa memberikan perawatan terbaik untuk mak alam. Jadi suatu hal yang wajar bila mak alam ini tumbuh menjadi wanita yang sangat menarik. Bisa dibilang Perawatnya inilah yang telah membentuk mak alam ini menjadi seorang wanita panutan. Mak alam terlahir dalam kelurga besar dari silsilah keluarga yang berpengaruh dan bagi penduduk sekitar. Meskipun dari keluarga yang besar, mak alam lebih populer dari saudara - saudara lainnya. Karena kemolekannya juga pasti karakter bijaksananya. Kebersahajaannya membuat siapa saja merasa nyaman ada dekatnya. Bisa dikatakan bahwa kehidupan mak alam waktu itu adalah kehidupan yang sangat indah. Dan tersohor sampai kepelosok negeri.
Hingga suatu hari, kesohoran mak alam muda ini pun sampai ketelinga manu. Untuk membuktikan kebenaran cerita yang beredar pada saat itu datanglah dia ke desa planetorium. Manu ini berasal dari ras sia. Awalnya ras ini tinggal pada sebuah kerajaan yang bernama syurga. Dan karena rasa ingin tahu mereka yang tinggi, mereka pun mencoba mencari kehidupan di luar kerajaan. Ras sia ini terkenal sebagai ras yang berpengetahuan luas, cerdas dan mempunyai rasa ingin tahu yang besar akan segala kejadian pada alam sekitarnya. Jadi tidak heran, bila ras sia ini memiliki banyak keahlian. Dari ilmu hitung, ilmu perbintangan, seni, arsitektur hampir semua bidang keahlian dikuasai oleh ras sia ini. Bahkan ilmu yang berbau ghaib pun menjadi daya tarik tersendiri bagi sebagian ras sia ini. Namun terkadang karena merasa lebih pintar dari ras - ras lain membuat ras sia ini menjadi sombong dan hidup dengan semaunya tanpa pernah memikirkan dampak dari perbuatannya untuk ras - ras lain. Kadang mereka menggunakan kepintaran itu untuk memanfaatkan kelemahan ras lain. Dan karena sudah merasa lebih pintar dari ras lain. Ras sia ini sering berbuat semena - mena pada ras yang dianggap bodoh oleh mereka. Begitu pun manu. Dia tumbuh menjadi sosok yang berwibawa, tampan dan cerdas. Namun merasa arogan dengan kepintarannya. Dan sesekali menggunakan kepintarannya untuk memanipulasi ras - ras lain. Sehingga menimbulkan pro dan kontra pada ras - ras lain. Di satu sisi orang mengagumi kepintarannya namun di sisi lain orang sangat membenci kearoganannya. Maka jadilah manu tokoh idola antagonis pada waktu itu. Dia pun tidak bisa terima kalau ada yang lebih hebat darinya.
Cerita punya cerita, manu dan mak alam pun berkenalan. Seiring waktu mereka pun semakin dekat satu sama lain. Bisa dikatakan dimana ada manu di situ ada mak alam. Dan karena ketulusan hati mak alam, mak alam tidak pernah terpengaruh oleh berita - berita miring tentang manu pada waktu itu. Karena mungkin manulah yang menjadi makhluk pertama mengisi kekosongan hidupnya. Dan dia berkeyakinan bahwa manu tidaklah sejelek apa yang para ras lain sangkakan. Kalau pun manu bersikap arogan, itu mungkin karena gejolak jiwa mudanya. Mak alam juga sering memberikan nasehat - nasehat kepada manu untuk tidak bersikap arogan. Walau nasehatnya tidak pernah didengar oleh manu tapi mak alam tidak pernah berkecil hati. Matanya yang teduh selalu memancarkan hangatnya kasih sayang kepada manu. Dari kedekatan itu pula manu juga semakin tahu tentang prilaku penduduk desa planetorium. Hingga muncul niat jelek di pikirannya untuk menguasai desa planetorium. Dan karena mak alam muda memang dekat dengannya dan berasal dari keluarga yang berpengaruh di desa planetorium jadilah mak alam muda sasaran tipu muslihat manu. Dengan harapan apabila dia sudah menaklukkan mak alam, maka itu akan memudahkannya menguasai penduduk desa lainnya.
Manu pun meminta kepada mak alam muda untuk bersedia menjadi tempat eksplorasi penemuan - penemuannya. Karena percaya dan tulusnya perasaan mak alam muda kepada manu, mak alam pun bersedia menuruti kemauan manu. Dengan catatan dia tidak berbuat diluar batas. Jadilah mak alam menjadi pusat eksploitasi kepintaran manu. Mak alam selalu dengan bijaksana memberikan nasehat kepada manu supaya tidak berlebihan mengeksploitasi dirinya. Tapi manu tidak mendengarkannya. Di permaknya wajah mak alam muda dengan segala macam jenis kosmetik dengan tujuan untuk mendapatkan hasil wajah yang lebih menarik. Dipotongnya rambut mak alam dan disuntikkannya berbagai zat - zat kimia hasil penemuannya ke setiap pori mak alam dengan harapan mendapatkan hasil yang diharapkannya. Manu terus berbuat semaunya dan mengkesampingkan dampak dari perbuatannya. Walaupun gagal tapi manu terus mencoba dengan segala upayanya. Dari kegagalan - kegagalan eksperimen manu terdahulu menimbulkan bekas - bekas luka abadi pada wajah mak alam. Bahkan menimbulkan cacat permanen hampir disekujur tubuh mak alam muda.Tapi manu tidak peduli. Mak alam muda juga terus menasehati manu untuk menghentikan kegiatannya. Karena itu akan berdampak buruk untuk kelangsungan hidupnya. Tidak jarang mak alam muda merontah - rontah, berteriak tapi seolah teriakannya tidak pernah digubris oleh manu. Malah membuat manu semakin nekat berbuat. Belum selesai sampai di situ. Manu malah menyedot lemak - lemak yang ada dalam tubuh mak alam. Alasannya agar mak alam kelihatan lebih sempurna. Disedotnya terus tanpa rasa prihatin sedikit pun kepada mak alam muda. Dibenak manu hanya bagaimana dia bisa terus memanfaatkan kepintarannya dengan cara mempraktekkannya kepada mak alam. Begitu kejamnya manu kepada mak alam hingga menciptakan banyak luka - luka yang tidak tersembuhkan. Setelah puas memporak porandakan mak alam, manu pun meninggalkannya begitu saja. Manu tidak pernah berusaha untuk memperbaiki bekas - bekas luka yang disebabkan olehnya. Manu juga tidak mau memberikan porsi gizi yang cukup buat mak alam muda agar bisa mengembalikan kebugaran tubuh mak alam muda yang telah dieksploitasinya secara berlebihan.
Sejak saat itu mak alam mengalami depresi berat. Dia seakan - akan tidak percaya apa yang sudah dilakukan manu terhadap dirinya. Manu yang selama ini dipercayainya menjadi seorang yang tega menelantarkan dan menghancurkan hidupnya. Depresi berat itu membuat mak alam bersikap labil. Kadang tanpa alasan yang jelas dia mendadak menangis. Namun tiba - tiba berteriak tidak karuan. Bahkan akhir - akhir ini suka muntah - muntah. Mungkin karena rasa mual yang diakibatkan eksploitasi berlebihan pada waktu dulu sehingga membuat perutnya tidak bisa mencerna dengan baik lagi. Kalau sudah begitu, hampir setiap orang kerepotan dibuatnya. Pandangan matanya yang dulu hangat kini seperti pandangan penuh ketidakpercayaan. Pandangan mata seperti ingin meluapkan kemarahan pada setiap siapa saja yang memandangnya. Masih terlihat jelas bekas - bekas perlakuan kejam manu kepada dirinya. Rambutnya yang dulu hitam panjang terurai rapi hanya tinggal sebuah kenangan manis.
Di panti jompo itu, Perawatnya yang sangat memahami kemauan mak alam. Terkadang sesekali orang - orang yang peduli dan bijaksana juga ikut menyambangi dan menghibur hati mak alam. Perawatnya yang menyisiri rambut kusamnya. Membedaki kulit keriputnya. Perawatnya juga yang selalu memandikan dan menyuapinya makanan. Nenek tua itu hanya tinggal menunggu waktu. Waktu dimana tidak ada orang - orang yang peduli. Waktu dimana Sang Perawat sudah merasa cukup merawatnya.


Komentar
Posting Komentar