Kakek dan Nenek


Suatu sore di sebuah taman....

Angin sepoy - sepoy mengatur irama daun di pepohonan. Seperti menari - nari sesuai ritme hembusan. Sesekali menjatuhkan daun yang tak sanggup lagi bergelantungan.

Sepasang manusia yang sudah tua duduk berdekatan di atas rumput sambil menikmati suasana sore itu. Sang lelaki menatap langit dan sesekali memejamkan matanya sembari tersenyum. Sementara si wanita asyik memperhatikan tingkah beberapa anak kecil yang sedang bermain di sekitarnya.

"Honey...tau nggak kenapa bee memandang ke langit ?". tanya kakek membuka perbincangan dengan suara bergetar dan nafas yang terputus - putus kepada nenek

"Emang di langit ada apa bee ?( sambil memandang ke langit ) nggak ada apa - apa tu bee".  jawab nenek heran sambil mencari di atas langit


"Rasanya bee ingin bisa terbang ke langit dan akan bee rangkai awan bertuliskan nama kita berdua". kata kakek dengan pipinya yang kempot sambil menggenggam tangan nenek


"Oh...my bee bisa aja". jawab nenek sumringah dengan wajah mulai memerah

"Emang.. terus kenapa kalau nama kita tertulis di atas sana ?" Tanya nenek seolah - olah penasaran karena dia menduga biasanya akan ada gombalan setelah itu

Lelaki renta itu terdiam lalu menarik nafas dalam dan menghela nafasnya pelan. Ditatapnya wanita tua yang ada di sampingnya itu dengan penuh kasih sayang

"Ney...tau nggak, kenapa bee ingin menuliskan nama kita berdua di atas langit sana ?"

"Nggak. Emang kenapa bee ?"tanya nenek semakin penasaran

"Bee ingin, bila salah satu diantara kita meninggal, honey atau bee tidak perlu bingung - bingung ingin melampiaskan kerinduan pada siapa. Cukup hanya memandang ke langit saja. Karena di atas sana pernah tertuliskan nama kita berdua". jelas kakek sambil merangkul belahan jiwanya itu dengan butiran bening mengalir pelan dari sudut matanya.

Mendengar ucapan dan rangkulan penjaga hatinya. Si nenek memandang lembut ke arah lelaki yang sudah hidup lebih 50 tahun bersamanya. Dia semakin merapatkan tubuh kurusnya ke tubuh sang penakluk hatinya. Butiran bening itu pun menetes pelan membasahi pipinya.

Mereka hanya diam satu sama lain.
Seolah kata telah habis. Seakan kalimat tak mampu dirangkai lagi. Tenggelam dalam hening membayangkan jika waktu perpisahan itu akan tiba. Cepat atau lambat. Suka maupun tidak. Waktu itu pasti tiba. Pasti.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jadi muslim itu tidak enak (2)

Ayah, aku mohon maaf........

KETIKA TAK ADA LAGI YANG MEMANGGILMU PULANG