Suatu Sore... (menua bersama )



Sinar matahari sore itu mulai hangat. Terang pun mulai merangkak remang menuju gelap. Dikala itu hati sedang galau karena kau tak kunjung pulang. Namun kala itu kusempatkan melepas rindu sesaat pada senyum tulus kekasih kecilku di rumah tempat egomu tumbuh sebelum aku pulang ke gubuk dimana seharusnya kalian berada. Di gubuk yang seharusnya keluh kesah di bingkai bersama untuk menuju kebahagiaan.

Tak lama aku di rumah itu. Melihat senyumnya dan mendengar bibirnya berucap kata ayah saja sudah bahagia bukan kepalang. Kutinggalkan tangis rindu di belakangku. Mencoba mengengkol sepeda motor pinjaman dari juraganku. Sebuah sepeda motor tua tak terawat yang sering ku pinjam di saat perlu. Motor pun menyala dengan beberapa kali engkolan.

Tepat sesaat sebelum melewati jembatan, aku berhenti sesaat karena ada sepasang orang tua sedang melintas dengan sebuah motor. Perkiraanku usia mereka mungkin sekitar 60an keatas. Seketika hatiku bergumam, "alamak...mesra niat org tua ini". Karena si nenek ( kita sebut aja yang perempuan si nenek karena kalau disebut mawar kesannya kayak korban pelecehan 😊) melingkarkan tangannya ke pinggang si kakek dgn sangat erat. Seakan -akan si nenek tak mau lepaskan si kakek. Kebetulan kami searah dan aku pun mengikut dibelakangnya. 

Tak berapa lama si nenek agak merubah sedikit posisi duduknya ke kiri, lalu apakah yang terjadi... jeng...jeng...jeng.. si nenek menopang dagunya ke bahu kiri si kakek. Dan disambut ketawa kecil si kakek. "Alah...alah...alah...bikin cemburu aja orang tua ini" fikirku. Mereka terus berjalan pelan dengan sepeda motor maticnya sambil mengobrol sembari terkadang tertawa kecil. Entah apa yang mereka obrolkan. 

Sepanjang perjalan, setiap berpapasan dengan orang lain pasti orang tersebut akan senyum - senyum melihat tingkah mereka. Terasa jalan itu milik mereka berdua. Seolah - olah di kiri dan kanan jalan itu deretan bunga warna warni semerbak harum. Serta daun - daun yang berguguran seperti kala dimusim gugur. Angin yang bertiup pelan merasuk ke dalam tulang hingga merapatkan pelukan. ( gubraakkk... woi ntah kemana - mana ceritamu kayak film india pula. Samping kiri kanannya kan selokan jangan di tambah - tambalah //oke - oke... 😁umpama aja nya tdi itu wak πŸ˜‚ ). Kita lanjutkn...

Sore itu suasana hati ini campur aduk melihat sepasang makhluk renta begitu mesra. Ada rasa iri, haru, panasaran dengan sejoli itu. Aku hanya berkata dalam hati "bahagia benarlah kakek nenek ini. Setua ini masih mesra. Dan aku terus bertanya - tanya, apalah kiranya kisah yang sudah mereka lalui berdua selama ini. Dari pengantin baru sampai pengantin bau ( bau tanah maksudnya 😊). Apakah mereka tak punya masalah dalam biduk rumah tangganya? Rasanya tak mungkin. Pasti ada masalah. Banyak hal yang ingin ku pertanyakan pada mreka tapi itu tak memungkinkan ku tanya karena kami punya tujuan yang berbeda. 

Tatkala diusia senja seperti itu mereka masih bisa mesra bersama dan itu bukti bahwa kesetiaan yang sudah teruji. Cinta mereka bukan sebatas rupa, rindu mereka tak lagi karena syahwat menggebu. 

Cemburu mereka tak lagi buta karena sudah saling percaya. Bahasa romantisnya, kutitipkan hatiku dan hatimu pada sang pemilik cinta agar Dia tetap selalu menebar rasa sayang hingga terus tumbuh hingga maut memisahkan. Shuiitt...suit...srrrr... ah.... (Karena kalau dititipkan ke ekspedisi takut nyasar 😁 ). 


Pasangan yang sudah setua itu biasanya jika salah satu dipanggil duluan oleh sang pencipta yanh ditinggalkn akan merasa hampa. Ibarat makan nasi liwet tanpa cocolan sambal. Bagaikan motor tanpa standar ( kalau orang siantar bilang cagak keretanya ga ada 😁). Umpama makan nasi padang pesannya pake ayam rendang ternyata waktu di gigit lengkuas ( pengalaman pribadi πŸ˜‚). 

Tapi biarpun begitu mungkin mereka akan punya cara untuk terus menghidupkan cinta mereka. Walau banyak yang tenggelam dalam duka tatkala teman hidupnya pergi duluan hingga tak mampu bertahan lebih lama hingga ajal menjemputnya.

Di usia mereka mungkin tak ada lagi kalimat, "itu lihat kelakuan anakmu ". Atau "anakmu lah itu". Tapi dari bibir lembut mereka hanya keluar "lihat anak kita prett... "( kebetulan nama istrinya pretty bukan kampret. Jangan salah sangka dulu 😁). Atau mungkin mereka akan berkata, " itu anak kita dulu yang kita timang - timang sekarang dia pun sudah menimang - nimang anaknya. Ah...waktu terasa singkat ya ling.. ( hah...jgn salah sangka lagi, maksudnya darling bukan keling/hitam πŸ˜‚). 

Mereka itu yg telah bertahan tatkala makan sepiring berdua. Bertahan tatkala melihat kehidupan tetangga lebih baik dari kehidupan mereka. Bertahan tatkala susah. Bertahan ketika lapar mendera. Bertahan ketika cemburu merusak logika. Bertahan kala bergelimang harta. Bertahan dalam balutan cinta, berbingkai sayang yang berasaskan kepercayaan kepada keTuhanan yang berkebudayaan eh....salah keTuhanan yang maha esa 😊.
Ah....sudahlah...

Buat yang membaca. Tuluskan do'amu untuk mreka yang bertahan hingga menua bersama. Teruntuk kakek dan nenek ( tak tau siapa namanya ) dlm kisah ini yang telah menggugah hati buat yang berniat akan menua bersama. Yakinkan saja do'amu pasti akan sampai kepada sang pembolak balik hati.

Untuk wanita yang berstatus istri yang mungkin baca tulisan ini senyum - senyum sendiri. Senyumlah dengan menatap atau membayangkan suami anda karena ketika nanti kalian menua bersama, kelak dagu keriputmu akan menopang dibahu kurusnya. Karenamu dia tak memalingkan pandangan mata dan hatinya untuk wanita lain ( paling curi - curi pandang kali ya πŸ˜‚ πŸ–stop jgn merusak suasana 😁)

Buat para lelaki yang bergelar suami dengan membaca tulisan ini mesem - mesem sendiri. Tersenyumlah sambil memandang wajah cantik istrimu ( kalau ga yakin istrinyacantik, coba tanyakan sama ibu atau bapaknya. Biasanya kalau orang tua yang menjaga perasaan anaknya dijawab cantik itu πŸ˜‚ ). Karena bila nanti tua bersama, tangan keriputnya akan melingkar di pinggang kendurmu ketika kalian berboncengan di atas motor. Pandanglah dia yang akan menjadi teman disampingmu ketika kau merasa kesepian. Mungkin dia yang akan memapahmu ketika kakimu tak mampu lagi menopang tubuh krempengmu. Dia mungkin yang terus mengingatknmu tanpa bosan akan suatu hal karena kau mulai pikun.

Bagi para jomblo yanh membaca tulisan ini sambil gigit sarung bantal. Kuatkan dirimu untuk bisa menjadi bahu atau dagu yang akan tua bersama pasanganmu. Belajar mencintai dan dicintai. Jangan kau merasa harta bisa membeli kesetiaan dan ketulusan. Maaf ki sanak dan ki sinik... engkau keliru. Terkadang cinta memang perlu materi mbloh... tapi bukan untuk tujuan itu hanya sekedar alat.

Cinta itu berarti ketika hanya ada ............. ada.... ada huruf "T" nya. Karena kalau tidak ada huruf "T"nya jadi cina bukan cinta πŸ˜‚. Harusnya aku cinta kamu jadinya aku cina kamu. Alamak... bisa di sangka rasis ini. Kabuuuurr.....

Suatu sore.....
Tatkala remang gemulai hilang
Saatnya gemintang ganti benderang kesankan cerita tatkala renta

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jadi muslim itu tidak enak (2)

Ayah, aku mohon maaf........

KETIKA TAK ADA LAGI YANG MEMANGGILMU PULANG