Siapa yang gila sih ?

 


Siang itu panas matahari terasa membakar ubun-ubun. Membuat sebagian orang mengernyitkan mata karena panasnya. Debu -debu bertebaran kegirangan karena tiupan angin atau laju kendaraan. Menambah suasana semakin gerah dan menyesakkan.

Di sebuah halte bus yang beratap bolong, duduk seorang lelaki di bangku besi halte itu. Usianya sekitar 40 tahunan. Dari depan terlihat setelan kemeja putih dan seutas dasi melingkar di lehernya. Dia malipat tangan dan sesekali menyeka keringat yang menetes di pelipis matanya. Sebuah koper kantoran berwarna hitam terletak dibawah menghalangi kaki sebelah kirinya. Sementara sepatu kulit hitam terpasang di kaki kanannya. Lelaki itu sesekali melihat ke sisi kanannya arah datangnya kendaraan. Seperti sedang menunggu kedatangan sebuah angkutan.
Terkadang dia melihat ke tangan kirinya seperti sedang melihat jam. Padahal tak ada jam yang melingkar di tangannya. Kadang celinga - celingu seperti mencari sesuatu. Kadang bicara tak jelas meski lebih sering diam.....( kita tinggalkan dululah lelaki ini. Kalau bahas dia terus kelamaan masuk inti cerita. Bosan pula nanti bacanya ).

Sementara itu....

Rambut pirang sebahu bergoyang mengikuti irama langkah kaki berbalut sepatu hak tinggi. Bokong melenggak lenggok seperti .... seperti apa ya ? Seperti itulah ya. ( Bayangin sendiri aja biar dosanya tanggung masing - masing hihihihihi.."//"ai mak... ngeri kali ketawa kau bah hihihi. Ganti kenapa ?"// "Bukan apa bang, kalau ku ganti hehehe kesannya ngejek. Klu ku buat hohoho sudah ada yang make setiap akhir tahun bang"//"suka kau lah. Kau lanjut nggak ceritamu ini ?"//"oke bang" ).

Tangan kanannya memegang handphone yang hampir setiap moment digunakan selfie olehnya. Tas mungil bercorak pulkadot berwarna abu -abu monyet tersandang genit di bahu kirinya. Dia berjalan girang sambil bersua foto menuju halte dan kemudian duduk disisi lain dari lelaki yang sudah dari tadi duduk disana. Tangan kanannya merogoh ke dalam tasnya. Sebungkus tisu dikelurkannya. Dia mulai mengelap lembut setiap permukaan wajahnya. Namun ternyata tisu itu di rasanya tidak sanggup mengurangi keringatnya. Lalu dia memasukkan kembali tangannya ke dalam tas dan sebuah handuk kecil berwarna merah jambu bergambar hello kita pun keluar beserta tangannya. Dia seka dengan lembut keringat yang membasahi keningnya. Kemudian dia selempangkan handuk itu di bahunya dan dia mulai berceloteh panasnya hari itu...

" ihh.. panas banget deh hari ini. Bedak eke kan jadi luntur ".
Kemudian dia mengeluarkan sebuah tempat bedak kecil dan mengeluarkan spoon yang ada didalamnya. Namun hal itu kurang memuaskannya. Lalu dia keluarkan kaca spion motor dari tasnya yang langsung diarahkan ke wajahnya.

"Nah...tu kan. Bener kata ek... luntur bedaknya. Sebel deh.( sambil merapikan bedaknya lalu dia diam sejenak seolah mencari sesuatu. Hidungnya mulai mengendus - ngendus kembang kempis ).

" Ini bau apaan sih....". Umpatnya sambil menutup hidung.
"Mana panas banget, bau apa lagi ini. Hrggghh... benci deh kalo begini...kayaknya parit itu deh " celetuknya sambil matanya menuju parit yang dimaksud dan secara bersamaan dia juga melihat ke arah lelaki di sisi jauh disebelahnya.

" hmmm....jangan - jangan pria itu sumber bau ini hihihihi...". Bisiknya dalam hati. Pandangan matanya semakin tajam mencurigai. Nafasnya mulai terengah - engah. Butir keringat mulai membanjiri wajahnya. Bibirnya miring ke kiri dan kanan seakan ikut memastikan kecurigaannya ( woi...ini curiga atau BAB lagi susah sih 😂)

" ah...tunggu dulu. Sepertinya aku kenal lelaki itu ". Raut wajah penuh curiga seketika berganti jadi wajah penasaran. Dia seolah berusaha keras mengingat - ingat siapa lelaki itu.

" tapi siapa ya ". gumamnya lagi.
" ah...mending eke samperin siapa tau lagi kesepian. Jadi bisa gituan deh.. Ehihihi..." tawa kecil tersungging di bibir berlipstik merah menyalanya sambil menutup mulutnya.

"Hai...ganteng...sendiri aja. Mau eke temenin nggak". Dia melancarkan godaan. Sementara lelaki itu hanya melirik santai namun tetap duduk pada posisinya.

" ih... kok diam aja sih. Malu ya ?". Godanya pantang menyerah. Tiba - tiba dia sedikit kaget setelah melihat jelas wajah lelaki itu

"Alamaak.... kau Ramlan kan. Gak ingat kau samaku ". Dia coba menjelaskan
"Coba ku pastikan dulu. Jangan - jangan salah orang pula aku ". Fikirnya sembari memfokuskan pandangannya.
"Nah....benar kan ku bilang. Kau si Ramlan teman SD ku dulu. Gak salah lagi aku ". Eh...lan mash ingat nggak kau samaku ?" Tanya orang itu.

Lelaki yang ternyata bernama Ramlan itu hanya tersenyum irit. Seirit bensin motor yang ada di iklan 😁

" ingat nggak kau. Aku Susan. Satu SD dulu kita. Pernah satu bangku pun kita ". Dia terus meyakinkan si Ramlan

"Susan ?" Ramlan mencoba mengingat - ingat.
" perasaan waktu aku SD gak ada kawanku yang namanya susan". Kata Ramlan
"Kalau ada pun susan, bonekanya dia ".
Ungkap ramlan tenang

"Upsss...sorry kawan". Kata orang yang berpakaian wanita itu sambil menutup mulutnya.
"Susan itu namaku sekarang".
Orang itu pun senyum malu - malu.

"Aku anto lan... susanto". Tiba - tiba suaranya berubah jadi suara laki - laki yang membuat si Ramlan memegang dadanya tanda terkejut. " masih ingat kau kan ?". Tanya susan eh anto

"Ooooooo... ". Ungkap si Ramlan sambil mengangguk - angguk kepalanya seperti mengingat sesuatu dengan tetap memandang ke depan

"Ingat kau kan. Tapi ngomong - ngomong mantap kau sekarang ya lan. Sudah sukses kau rupanya. Tas kau aja, kayak tas direktur. Kerja dimana kau lan ? ". Tanya susan eh.. anto kepada ramlan

Ramlan hanya diam dengan pandangan kosong ke depan.

"Aku sudah muak kayak gini lan. Rasanya mau resign aja jadi bencong. Mana sering di ejek lagi, ihh.. masak cewek ada jakunnya. Ini aku lagi ambil shift siang karena malam gak bisa sampe larut malam karena kolornya
Eh..kolornya. korona ". Keluh susan eh.. anto dengan suara laki - laki tapi bahasa tubuhnya gemulai kepada ramlan.

"Satu lagi ya kenapa sih orang - orang gak pada ngerti dengan keadaan eke eh aku dan kayaknya nggak bakal ngerti deh ". Sambungnya
"Eke tu eh.. aku itu memang terlahir cowok tapi jiwa aku itu sebenernya cewek. Kayaknya Tuhan keliru deh waktu ngasih kelamin.. ha..ha..ha " candanya.
"Eke... eh aku merasa kejebak ditubuh pria aja. Mana jakun ku besar lagi. Mau operasi mahal cin.... ". Jelas santi girang
" heh...lan. aku dari tadi ngomong kau diam aja. Aku kerja sama kaulah ". Rayu santi pada ramlan.

Ramlan tiba - tiba tertawa hingga menampakkan giginya yang kuning sekuning padi yang mulai menguning di sawah lalu berkata :

" ha..ha..ha..kerja ? Kau mau kerja ? Kebetulan...ha ha..ha..ha.." ramlan lalu berdiri sehingga kelihatan robek di bagian belakang celananya hingga membuat auratnya ( pakai kata aurat biar sopan dikit 😁) kelihatan.

Ternyata terlihatnya aurat ramlan membuat santi agak sumringah dan bergumam : "wow... ".

Lalu ramlan mengangkat dan mengepalkan tangannya hingga tampak robekan besar pada bagian ketiak kemejanya sehingga terlihat bulu ketek dan juga menyebarkan aroma semerbak yang memusingkan kepala. Ramlan pun mulai berorasi dengan berapi - api.

" sodara - sodara... pilih saya jika mau bahagia. Pengangguran saya kasih kerja. Pengusaha saya kasih modal. Sekolah gratis..tis..tis.. Yang mau nikah gak ada biaya, saya bayari. Tapi ingat jangan lupa pilih saya pada tanggal 13 April nanti. Dan juga coblos partai yang bergambar kodok itu. Sekali lagi saya tanya. Nomor berapa ?" Tanya ramlan semangat seolah sedang berkampanye. Dia membuka telapak tangannya meregangkan ke lima jarinya.

"Ini...berapa ini ? Kok diam. Jawablah ". Pinta ramlan kepada susan yang dari tadi bengong melihat reaksi kawannya itu sambil menutup hidung karena kurang nyaman dengan aroma "parfum" si ramlan

" Hah...i..i..iya lima ..lima ". Jawab susan kaget dan gugup sambil menunjukkan lima jarinya

" ya.... lima...ini lima.." ramlan melihat ke arah telapak tangannya.

" lima ini kan". Dan mulai menghitung. "1..2..3..4..5. Hah..masih lima dia ku hitung. Bukan tiga. Heh..tiga ?" Raut mukanya mukai berubah. Dia terdiam sejenak mulai bersimpuh dan tiba - tiba berteriak. Hingga membuat susan terkejut dan mengumpat gak jelas.

" kalau ini lima, terus kenapa kalian malah pilih no tiga..." teriak ramlan sambil menunjuk ke semua arah
" hah... Kenapa nomor 3... kenapa ? yang bodohlah kalian...hah..bodoh... bodoh kali kalian itu bodoh ". Ramlan terus merintih sedih

Susan yang sangat terkejut dengan tingkah ramlan pun mencoba menjauhi ramlan.

"Alamak...yang sudah pesong (stress ) nya kawan ku ini " fikir susan
"Kumat pula dia. Mending eke kabur...". Niatnya

Tiba - tiba ramlan mencegahnya.

"Hei...mau kemana kau". Cegah ramlan
"Kau juga ikut pilih nomor tiga itu kan ?" Tanya ramlan

Susan mulai gelagapan serta bingung mau berbuat apa

"Idiihh... ek...ek...eke gak ikut milih - milih lan. Suerr.. ( sambil menunjuk dua jari ) soalnya eke suka di tolak karena dikiranya eke eh...aku nipu. Penampilanku cewek, tapi foto di ktp kok cowok he..he..he.." jelas susan gugup juga malu

"Kalau kau gak ikutan kenapa kau mau lari " sergap ramlan sambil menghadang langkah susan

"Hellooooo.....terus eke harus ngobrol sama orang gila kayak kau " celetuk susan

"Apa ! kau bilang aku gila. Kau itu yang gila". ucap ramlan sambil menunjuk ke arah wajah susan

"Idiihh... orang cantik gini kau bilang gila. Hellllooo... ( lidah menjulur kayak komodo sampe air liurnya pun keluar argghhh 😊) ngaca dong ". Bela santi

"Heh...ku kasih tau sama kau ya. Aku sudah pengalaman dua tahun jadi orang gila ( ai mak... ingat pula sudah berapa tahun dia gila ) gak pernah berfikir ganti nama apalagi ganti kelakuan. Susan namamu kau bilang, ternyata susantonya nama kau. Terus kau bilang, yang terjebak di tubuh cowoknya kau. Kau salahkan pula Tuhan. Kalau gak gila..hah..apalah namanya itu ". Jelas ramlan. Belum sempat ramlan bicara lagi, susan menimpali.

"Heh...terus celanamu yang robek sampe pan***mu kelihatan itu apa namanya. Pake sepatu sebelah aja lagi. Hah..itu ketiakmu yang robek itu. Pusing pun aku nyium baunya. Itu bukan gila namanya ?" Jawab susan tak terima

"Heh... ini mau kau ha.. ( sambil menunjukkan pan***nya ). Hah..nih ambillah. Dasar orang gila ". Balas ramlan

Melihat itu susan pun mengambil ranting kayu dan melibas ke pan*** ramlan

"Cetaassshh..hah kau ambil ini..."umpat susan

"Adooohh...mamak". Ramlan teriak kesakitan sambil berlari dan di kejar susan sambil terus melibas pan*** ramlan

Kedua makhluk itu pun kejar - kejaran sambil saling menuduh satu sama lain dengan kata gila. Di sambut riuh orang - orang sekitar yang sedari tadi ikut menyimak peristiwa itu. Kejadian yang menjadi hiburan tersendiri di siang hari itu.

Sebenarnya siapa sih yang gila ?😁


Sementara itu di seberang jalan disebuah kios rokok....

"Ada apa itu mas rame - rame " tanya seorang pemuda maskulin kepada penjaga kios

"O...itu. Ada banci ngejar - ngejar orang gila mas". Jawab si penjaga kios sambil tersenyum geli

"Lha...itu kan orang gila yang sering duduk di halte itu ?" Tanya lelaki itu

"Iya mas.. itu ramlan namanya. Dia seperti itu awalnya stres karena kalah waktu nyaleg. Keluarganya pun gak ngurusi lagi ya jadi begitu deh ". Jelas penjaga kios

" oo....". Jawab lelaki tegap singkat sambil mencari - cari sesuatu dideretan toples plastik seolah tak tertarik dengan keseruan di seberang jalan sana

"Nyari apa mas " tanya penjaga kios keheranan

"Permen yang bertangkai ada ?" Tanya lelaki itu

" ada. Nah...itu " jawan penjaga kios sambil menunjuk ke arah permen yang dimaksud

" berapaan ?" Tanya si lelaki tegap itu sambil memasukkan tangan ke toples

" dua ribu tiga mas " jawab penjaga kios

"Saya beli tiga aja..nih " jelas lelaki maskulin sambil menyerahkan uang pecahan lima ribu

Penjaga kios pun mengambil uang dari pemuda itu dan masuk ke kios untuk mengambil kembalian

"Kembaliannya ambil aja mas " pinta pria itu sesaat setelah penjaga kios berada di dalam kiosnya

" serius mas " tanya penjaga kios keheranan

"Serius " jawab pria itu sambil berlalu dengan mengedipkan mata sebelah kiri dengan genit ke arah penjaga kios itu sambil memainkan tangkai permennya. Baru selangkah kemudian dia kembali membalikkan kepalanya ke arah penjaga kios dan memonyongkan bibir seakan - akan ingin menciumnya. Si penjaga kios pun membalas dengan senyuman yang tersekat dari bibirnya. Dia binggung dengan sikap lelaki tadi.

Siang itu semakin terasa panas. Namun orang - orang seolah tak merasakan cuacu itu lagi karena asyik menyaksikan tingkah si ramlan dan si susan. Yang terlihat sedang berusaha diamankan oleh pihak keamanan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jadi muslim itu tidak enak (2)

Ayah, aku mohon maaf........

KETIKA TAK ADA LAGI YANG MEMANGGILMU PULANG